Kamis, Januari 15, 2026

Kontribusi Manufaktur Masih Besar, Indonesia Tidak Alami Deindustrialisasi

Must Read

Moneter.id – Kontribusi
industri manufaktur Indonesia sebagai penopang perekonomian dinilai masih cukup
besar. Hal ini terlihat melalui pertumbuhan sektor, peningkatan investasi, penambahan
tenaga kerja dan penerimaan devisa dari ekspor.

“Gejala
deindustrialisasi itu ketika kontribusi industri terhadap PDB sangat rendah,
artinya menurun drastis. Tetapi sekarang kan masih cukup tinggi. Apalagi
industrinya semakin tumbuh dan investasi terus jalan,” kata Sekretaris
Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar di Jakarta,
Minggu (14/4).

Kemenperin
mencatat, kontribusi industri manufaktur pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional
berada di angka 20%. Kondisi ini menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-5
di antara negara G-20, setelah China (29,3%), Korea Selatan (27,6%), Jepang
(21%) dan Jerman (20,7%).

“Padahal,
rata-rata kontribusi sektor manufaktur dunia saat ini hanya sebesar 17%,” ujar
Haris.

Oleh
karena itu, lanjut Haris, industri manufaktur menjadi sektor andalan dalam
penerimaan negara. Hal ini pula yang menjadi perhatian pemerintah untuk semakin
menggenjot hiliriasi industri.

Sejalan
upaya tersebut, Kemenperin terus mendorong pendalaman struktur industri di
dalam negeri melalaui peningkatan investasi, yang juga bertujuan untuk
mensubstitusi produk impor.
Investasi di sektor industri manufaktur pada tahun
2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018.
Inipun mencerminkan iklim investasi di Indonesia terbilang kondusif.  

Dari
penanaman modal tersebut, membawa efek berantai bagi pertumbuhan sektor
industri baik skala besar dan sedang maupun skala kecil.
Pada
periode tahun 2014-2017,

terjadi penambahan populasi industri besar dan sedang, dari
tahun 2014 sebanyak 25.094 unit

usaha menjadi 30.992 unit usaha sehingga tumbuh 5.898 unit
usaha.

Di sektor industri kecil, juga
mengalami penambahan, dari tahun 2014 sebanyak 3,52 juta unit usaha
menjadi
4,49 juta unit usaha di tahun 2017. Artinya, tumbuh hingga 970 ribu industri
kecil selama empat tahun tersebut.

Dampak positif lainnya adalah terbukanya lapangan pekerjaan
yang luas. Hingga saat ini, sektor industri telah menyerap tenaga kerja
sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4 persen dibanding tahun
2015 di angka 15,54 juta orang.

“Selain
itu, industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap
nilai ekspor nasional hingga
73%,” imbuhnya.

Nilai ekspor industri pengolahan
nonmigas diproyeksi menembus USD130,74

miliar pada tahun 2018. Capaian ini meningkat dibanding
tahun sebelumnya sebesar

USD125,10 miliar.

Apalagi, adanya peta jalan Making
Indonesia 4.0, menandakan kesiapan Indonesia dalam upaya pengembangan industri
nasional agar lebih berdaya saing global di era digital. “Aspirasi besarnya
adalah menjadikan Indonesia masuk jajaran negara 10 besar dengan perekonomian
terkuat di dunia pada tahun 2030. Kami juga optimistis, Indonesia peringkat
ke-4 di tahun 2045,” tegas Haris. 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

REDMI Note Series Tembus 460 Juta Unit Pengiriman Global

REDMI Note Series menjadi kontributor besar dengan total pengiriman lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img