PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan usaha kecil dan menengah (UKM) di atas rata-rata industri perbankan. Hingga Juli 2026, kredit UKM BCA tumbuh 6,9% secara tahunan menjadi Rp134 triliun, jauh melampaui pertumbuhan kredit UKM industri yang hanya sebesar 1,2% berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kinerja tersebut menunjukkan kontribusi segmen UKM terhadap ekspansi pembiayaan BCA di tengah kebutuhan modal usaha yang terus berkembang. Secara keseluruhan, kredit BCA secara bank only mencapai Rp1.017 triliun per Agustus 2026, tumbuh 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit tersebut mencakup segmen korporasi, komersial, dan UKM. BCA menyebut pertumbuhan kreditnya menjadi yang tertinggi di kelompok perbankan swasta dan secara konsisten berada di atas rata-rata industri dalam 15 tahun terakhir.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, pertumbuhan pembiayaan merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam mendukung perkembangan usaha di berbagai sektor.
“Pertumbuhan kredit BCA yang positif merupakan cerminan dari komitmen kami dalam memberikan pembiayaan bagi pelaku usaha di berbagai sektor. Kami melihat besarnya kebutuhan pelaku usaha untuk terus berkembang,” ujar John, Rabu (14/10/2026).
Untuk memperluas pembiayaan kepada pelaku usaha, BCA menyediakan Kredit Multiguna Usaha MerDeKa (Material, Developer, dan Kontraktor) atau KMU MerDeKa. Produk ini ditujukan bagi pelaku usaha di sektor material, pengembang, dan kontraktor yang membutuhkan dukungan pembiayaan untuk menjalankan serta mengembangkan bisnisnya.
Selain menyalurkan kredit, BCA menjalankan sejumlah program pendampingan guna membantu pelaku usaha memperluas skala bisnis. Program tersebut meliputi BCA Bangga Lokal, UMKM Go Export, Sertifikasi Halal, dan BCA UMKM Fest.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, perseroan mendorong pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar domestik, memanfaatkan teknologi digital, mengembangkan ekspor, serta meningkatkan kesiapan produk untuk memenuhi persyaratan pasar.
Di sisi lain, ekspansi pembiayaan tetap diimbangi dengan pengelolaan risiko. Per Agustus 2026, BCA mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8% dan rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,7%.
Perseroan menyatakan akan mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan prospek usaha debitur dan kondisi perekonomian. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas aset sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Dengan pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta dukungan pendanaan yang kuat, kami berharap dapat terus mendampingi nasabah dalam mengembangkan usahanya dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” kata John.
Kinerja kredit UKM BCA yang tumbuh di atas rata-rata industri menjadi salah satu indikator penguatan pembiayaan pada segmen usaha produktif. Ke depan, kemampuan menjaga kualitas kredit di tengah ekspansi akan menjadi faktor penting bagi perseroan dalam mempertahankan momentum pertumbuhan.




