Moneter.id – PT
Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatatkan laba bersih setelah
pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar Rp1,1 triliun hingga
kuartal III/2019. Angka ini menurun bila dibandingkan capaian per 30 September
2018 sebesar Rp1,5 triliun.
“Kami
tetap optimis dapat menutup tahun keuangan 2019 dengan pendapatan operasional
yang baik meskipun kondisi pasar terus menantang hingga akhir tahun,” kata Presiden
Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria di Jakarta, Rabu (30/10).
Hingga
kuartal III/2019, Maybank Indonesia telah menyalurkan kredit sebesar Rp129,8
triliun atau turun 1,1% dari Rp131,2 triliun pada 30 September 2018.
“Kami
kembali mengalami kondisi yang penuh tantangan pada kuartal ketiga 2019, tetapi
kami tetap berkomitmen pada strategi kami untuk bertumbuh secara bertanggung
jawab dan secara selektif memastikan kualitas aset, sementara berfokus pada
optimalisasi teknologi untuk memberikan pengalaman nasabah yang lebih baik pada
seluruh touchpoints,” papar Taswin.
Menurut Taswin,
bank akan terus menempuh langkah proaktif untuk mendukung nasabah dalam
menghadapi tantangan dan menjaga postur risikonya untuk menjaga kualitas aset.
“Langkah
ini telah menghasilkan peningkatan kualitas aset seperti tercermin pada penurunan
tingkat NPL dari 2,7% (gross) dan 1,5% (net) pada September 2018 menjadi 2,6%
(gross) dan 1,5% (net) pada September 2019,” jelasnya.
Ungkap Taswin,
Maybank Indonesia telah meningkatkan provisi kerugian kredit atau loan loss provision sebesar 59,4% menjadi
Rp1,6 triliun per September 2019.
“Provisi
ini terutama disebabkan oleh beberapa nasabah komersial dan korporat yang
terdampak oleh melemahnya kinerja keuangan perusahaan,” ucapnya.
Kemudian, Maybank
Indonesia mencatatkan peningkatan pendapatan operasional sebelum provisi
sebesar 2,0% menjadi Rp3,1 triliun untuk kuartal III/2019.
Selain
itu, Maybank Indonesia juga mencatat pertumbuhan pendapatan non bunga sebesar
23,2% menjadi Rp1,9 triliun pada September 2019 dibandingkan Rp1,5 triliun pada
periode yang sama tahun lalu.
Sementara
pendapatan bunga bersih juga meningkat 1,4% menjadi Rp6,1 triliun dari Rp6,0
triliun sementara Marjin Bunga Bersih turun 27 basis point secara tahunan menjadi 5,0% pada September 2019 dari
5,2% pada September 2018.
Marjin
Bunga Bersih pada September 2019 lebih tinggi 14 basis point dibandingkan 4,8% pada Juni 2019 menyusul upaya
berkelanjutan dalam meningkatkan imbal hasil kredit dan mengurangi biaya dana.
Maybank
Indonesia juga berhasil mengurangi kelebihan likuiditas dan biaya dana yang
tinggi pada semester satu yang merupakan langkah aktif untuk memastikan
likuiditas yang cukup dalam memitigasi semua risiko yang tidak terduga selama
dan sesudah pemilu.
Bank
terus mempertahankan posisi likuiditas yang kuat dengan simpanan nasabah yang
meningkat 4,3% menjadi Rp115,6 triliun pada September 2019 dari Rp110,8 triliun
pada September 2018.
Rasio Loan to Deposit (LDR) berada pada level yang sehat sebesar 96,3%
sementara Rasio Liquidity Coverage
(LCR) berada pada 169,7% per September 2019, jauh melampaui kewajiban minimum
sebesar 100%.
Untuk biaya
overhead, perbankan mencatat kenaikan
sebesar 8,4% menjadi Rp4,9 triliun pada September 2019 dari Rp4,5 triliun pada
September 2018.
Biaya
overhead ini termasuk insentif yang
dibayarkan untuk simpanan mudharabah yang tumbuh 107,8%. Di luar biaya insentif
tersebut, biaya operasional relatif sama hanya meningkat 0,7% hingga September
2019.




