Minggu, April 19, 2026

Laba BNI Tumbuh 2,7 Persen Jadi Rp7,63 Triliun di Semester I/2019

Must Read

Moneter.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI)
mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 2,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp7,63
triliun pada semester I/2019. Hal ini di antaranya karena tekanan biaya dana
yang akhirnya membuat pendapatan bunga bersih atau 
net interest income(NII)
hanya naik 1% (yoy) menjadi Rp17,61 triliun.

“Tekanannya adalah beban bunga atau interest
expanse
 tercermin dari biaya dana (cost of fund) yang terlihat
dari tahun lalu meningkat dari 2,8% tahun lalu ke saat ini sebesar 3,2%,”
kata Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo di Jakarta, Selasa (23/7).

Menurut Anggoro, dengan pendapatan bunga bersih (NII)
yang tumbuh tipis, marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM)
BNI sebesar 4,9%.

Target BNI adalah NIM akhir tahun bisa di kisaran
5,0-5,1%. “Maka itu kita berharap semester II/2019, tekanan likuiditas
melonggar sehingga biaya dana menurun,” ujar Anggoro.

Meskipun menghadapi tantangan likuiditas, BNI mampu
mendorong pertumbuhan kredit hingga 20% (yoy) menjadi Rp 549,23 triliun. Untuk
mendukung pertumbuhan kredit itu, dana pihak ketiga (DPK) BNI naik 13% (yoy)
menjadi Rp595,07 triliun.

“Pertumbuhan kredit BNI didorong oleh pembiayaan
pada korporasi yang mencapai 51,9% dari total portfolio kredit BNI, dengan
fokus pembiayaan pada sektor-sektor unggulan yang memiliki risiko relatif
rendah, terutama ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, serta
jasa dunia usaha,” ujarnya.

Sedangkan, kredit yang dialirkan pada segmen usaha
kecil naik 21,5% (yoy) termasuk di dalamnya adalah penyaluran kredit usaha
rakyat (KUR).

Sementara untuk kredit segmen menengah tetap dijaga
bertumbuh moderat sebesar 7,6% (yoy). Adapun pada kredit konsumer, kredit tanpa
agunan berbasis kredit kepegawaian masih menjadi kontributor utama pertumbuhan
konsumer BNI yaitu sebesar 12,8% (yoy).

Sementara untuk pertumbuhan kredit perumahan dan kartu
kredit tumbuh masing-masing sebesar 8,9% (yoy) dan 4% (yoy).

Meskipun NII yang hanya satu digit, BNI mampu
mendongkrak pendapatan komisi atau fee based income hingga
tumbuh 11,6% (yoy). Sebesar 96,5% dari pendapatan non bunga itu ditopang
oleh recurring fee yang mencatatkan pertumbuhan 16,6% (yoy)
menjadi Rp5,2 triliun.

“Pertumbuhan ini berkontribusi sebesar 21,6% terhadap
total pendapatan operasional BNI pada semester I/2019,” paparnya.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL)
BNI tercatat membaik menjadi 1,8% pada semester I/2019 dari periode yang sama
di tahun sebelumnya yakni 2,1%.

Sedangkan biaya kredit atau credit cost juga
menurun dari 1,7% pada semester I/2018 menjadi 1,4% pada semester I/2019. “Hal
itu membuat rasio pencadangan terus meningkat menjadi 156,5% pada akhir
semester I/2019 dari dari 150,2% pada semester yang sama tahun lalu,”
pungkasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Angel Pieters Rilis Garis Tangan, Single Terbaru Tentang Keikhlasan Melepas Seseorang

Angel Pieters hari ini secara resmi merilis single terbarunya, “Garis Tangan” sebuah karya lagu yang dipercaya menyimpan cerita tentang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img