Rabu, Oktober 14, 2026

LPEI Dorong Hilirisasi Komoditas Lokal, 10 Eksportir Bidik Peluang Bisnis di TEI 2026

Must Read

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mendorong penguatan ekspor produk olahan berbasis komoditas lokal dengan membawa 10 pelaku usaha binaan ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Langkah ini diarahkan untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian Indonesia di tengah persaingan perdagangan global.

Sepuluh eksportir tersebut akan berpartisipasi dalam TEI ke-41 yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Melalui ajang ini, LPEI berupaya mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli internasional serta memperkuat akses terhadap layanan pembiayaan dan pendukung kegiatan ekspor.

Produk yang dibawa mencakup kopi, teh, kakao, gula aren, gula kelapa, rempah-rempah, hingga bahan alami untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Ragam produk tersebut memperlihatkan peluang ekspor Indonesia tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah, tetapi juga pada produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Corporate Secretary LPEI Dyza Rochadi mengatakan, keikutsertaan eksportir binaan dalam TEI 2026 merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk meningkatkan daya saing produk nasional dan mendorong pelaku usaha memanfaatkan peluang perdagangan internasional.

“Sebagai Export Credit Agency (ECA) dan Eximbank Indonesia, LPEI menyediakan berbagai solusi pembiayaan, penjaminan, asuransi ekspor, serta layanan pengembangan kapasitas usaha,” ujar Dyza dalam keterangan tertulis, 12 Oktober 2026.

Menurut dia, pameran tersebut juga menjadi sarana bagi eksportir untuk memperoleh informasi dan konsultasi mengenai kebutuhan ekspor, termasuk prosedur kepabeanan serta layanan yang disediakan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Lembaga National Single Window (LNSW).

LPEI akan berpartisipasi bersama Kementerian Keuangan, Bea Cukai, dan LNSW melalui booth KemenkeuSatu. Selain layanan konsultasi, lembaga tersebut akan mengikuti sejumlah diskusi dan sesi berbagi pengetahuan yang membahas dukungan pemerintah, identifikasi potensi pasar, serta pemanfaatan fasilitas ekspor.

Dari sisi komoditas, sejumlah peserta memiliki basis pasokan yang melibatkan petani lokal dalam skala besar. CV Bunga Palm, misalnya, mengembangkan produk gula kelapa organik dan turunannya dengan dukungan jaringan lebih dari 18.000 petani. Model bisnis tersebut memperlihatkan pentingnya integrasi antara pengolahan produk dan keberlanjutan pasokan bahan baku dalam pengembangan ekspor.

Sementara itu, PT Agri Spice Indonesia mengembangkan bisnis pengolahan dan ekspor pala, cengkeh, kayu manis, serta vanila melalui kemitraan dengan ribuan petani di Lampung, Sulawesi Selatan, Jambi, dan Papua. Perusahaan juga menjalankan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil pertanian.

Di sektor kopi, CV Mandiri Coffee yang berbasis di Sumatera Utara memasarkan biji kopi mentah dan sangrai, dengan volume produksi mencapai 1.037 ton pada 2023. PT Kopi Prima Indonesia juga memasok kopi Arabika dan Robusta untuk pasar domestik maupun ekspor dengan bahan baku dari berbagai perkebunan di Indonesia.

Adapun PT Mandala Prima Makmur menjadi salah satu peserta dari industri kakao dan cokelat. Perusahaan yang berdiri pada 2001 itu telah memperluas pemasaran produknya ke sejumlah negara di empat benua. Pada 2025, perusahaan mulai meningkatkan kapasitas produksinya melalui fasilitas seluas 12.500 meter persegi yang didukung sistem keamanan pangan dan pengendalian mutu.

Potensi produk olahan lainnya diwakili Puri Food and Healthy yang memasarkan gula aren cair ke Malaysia dan Belanda, Sila Artisan Tea dengan produk teh artisan premium, serta CV Ceterindo Kurnia Tritama yang memproduksi minuman herbal, permen herbal, dan kukis berbahan alami.

CV Alpha Agro Indonesia turut membawa produk rempah-rempah Indonesia ke pasar internasional. Sementara itu, PT Haldin Pacific Semesta mengolah bahan alami untuk memasok berbagai kebutuhan industri, mulai dari makanan, minuman, produk olahan susu, perawatan pribadi, hingga bumbu masak.

Keberagaman sektor tersebut menjadi modal untuk memperluas basis ekspor produk nasional. Namun, peluang perdagangan di pasar global tetap menuntut kemampuan pelaku usaha menjaga konsistensi kualitas, memenuhi standar negara tujuan, serta menjamin ketersediaan barang sesuai kebutuhan pembeli.

Dalam konteks tersebut, dukungan pembiayaan dan penjaminan ekspor menjadi penting untuk membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas produksi dan mengelola risiko perdagangan lintas negara. Selain itu, pemahaman mengenai prosedur kepabeanan dan kelengkapan dokumentasi turut menentukan kelancaran pengiriman.

Sebagai Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan yang menjalankan peran sebagai policy bank, LPEI menyediakan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi untuk mendukung pertumbuhan ekspor nasional.

Melalui partisipasi dalam TEI 2026, LPEI berharap semakin banyak pelaku usaha Indonesia mampu memanfaatkan peluang pasar internasional dan mengembangkan jaringan bisnisnya. Keberhasilan upaya tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan eksportir mengubah pertemuan bisnis menjadi kontrak perdagangan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia di pasar global.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

FedEx Perkuat Layanan Impor Digital di Indonesia, Integrasikan Pembayaran Bea Masuk dan Pajak

Federal Express Corporation (FedEx) memperkuat layanan pengiriman internasional di Asia Pasifik dengan meningkatkan kapabilitas FedEx Import Tool. Pembaruan ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img