Kamis, Januari 15, 2026

Mendagri : Presiden Jokowi ‘Bapak Pengendali Inflasi Indonesia’

Must Read

Moneter.id – Jakarta – Presiden
Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) merupakan orang yang tepat dikatakan
sebagai “Bapak Pengendali Inflasi Indonesia”.

Demikian disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri)
Tito Karnavian menanggapi pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran
Sulaiman yang menyebut bahwa Mendagri Tito Karnavian sebagai “Bapak Pengendali
Inflasi” di sela Rapat Koordinasi Perluasan Areal Tanam dan Penandatanganan
Nota Kesepahaman bersama Menteri Pertanian di Jakarta, Jumat (7/6/2024) malam.

“Sebetulnya Bapak Inflasi adalah Bapak Jokowi,
Karena saya dapat perintah dari beliau itu bulan September 2022, ketika
angkanya 6 persen,” kata Tito.

Kata Tito, dirinya hanya menjalankan tugas yang
diberikan oleh Kepala Negara sehingga bisa menekan inflasi dari 6 persen per
September 2022, kini menjadi 2,84 persen per Mei 2024. “Dan kita memang
pemerintah pusat menargetkan kendali inflasi pada angka 2,5 persen plus minus 1
persen, artinya maksimal 3,5 persen dan paling rendah 1,5 persen,” ujar Tito.

Menurutnya, Indonesia tidak akan bisa mencapai inflasi 0
persen, karena Indonesia sebagai negara produksi, bukan seperti Singapura yang
merupakan negara konsumsi yang tidak memiliki sawah dan petani.

“Bagaimana inflasi Indonesia bisa ditekan hingga 2,84
persen. Awalnya pada September 2022, ketika inflasi 6 persen, Tito mengaku
dipanggil oleh Presiden Jokowi,” paparnya.

Tito menjelaskan bahwa langkah yang harus dilakukan
adalah daerah harus dikendalikan dan tidak boleh diam saja. Karena ilmunya
menangani inflasi itu, lanjut Tito, menurut Harvard cuma satu instrumen dan
berlaku di seluruh dunia, yaitu pengendalian bunga bank.

“Ketika kemudian terjadi inflasi tinggi maka suku bunga
dinaikkan, begitu suku bunga dinaikkan maka produksi akan turun, demand
(permintaan) juga akan turun, otomatis inflasi akan turun. Tapi ketika inflasi
terlalu rendah, maka bunga juga akan direndahkan supaya demand akan naik.
Ilmunya itu,” papar Tito.

Namun, Tito mengaku bahwa penjelasan itu tidak disetujui
oleh Presiden saat itu. Bahkan Kepala Negara langsung menginstruksikan kepada
Mendagri agar menangani inflasi seperti mengatasi wabah pandemi COVID-19.

“Pak Jokowi bilang enggak, kita pake ilmu yang lain,
ilmu COVID-19. Semua seluruh dunia tidak ada yang ahli COVID, karena COVID yang
terakhir sekali pandemi adalah pada saat tahun 1927 artinya 100 tahun lebih,” ungkap
Tito.

Presiden lalu memerintahkan Mendagri memetakan per
wilayah mulai rumah sakit mana yang penuh, daerah dengan kasus meninggal
terbanyak, hingga kasus positifnya tertinggi dikategorikan merah.

Sementara, untuk wilayah di luar kategori itu diberi
tanda kuning, dan hijau. Bagi yang kuning bisa bergerak, namun masih ada
sejumlah pembatasan sedangkan hijau bisa bergerak bebas.

Kebijakan itu diambil sebagai langkah menyeimbangkan
antara penanganan COVID-19 dengan pengendalian ekonomi. Karena ada negara yang
kencang dan berhasil menangani COVID-19 tetapi ekonominya kolaps.

Ilmu itu kemudian yang diminta oleh Jokowi untuk
diterapkan terhadap penanganan inflasi. Dan Presiden juga meminta semua
pemangku kepentingan berkumpul setiap daerah dicek dengan menggunakan data
Badan Pusat Statistik (BPS).

Melalui mekanisme itu, lanjut Tito, pengendalian inflasi
bisa di angka 2,84 persen dan bahkan di bulan Mei 2024 pertama kali sejak
September 2022 secara bulanan terjadi deflasi yaitu minus 0,03 persen.

“Biasanya makanan, minuman, tembakau selalu merah. Baru
bulan Mei 2024, makanan, minuman, tembakau yang bisa selalu merah ini justru
deflasi 0,29 persen,” ujarnya.

Tetapi, Tito mengaku bahwa pencapaian itu juga merupakan
kerja keras dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kepala Badan Pangan
Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, dan Direktur Utama Perum Bulog Bayu
Krisnamurthi yang bekerja di bidang pangan.

“Jadi, sebetulnya Bapak Inflasinya adalah Bapak Jokowi,
tapi sebetulnya yang bekerja Pak Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan dan
Direktur Bulog sebetulnya. Kami (Kemendagri) hanya membantu mengkoordinir saja,”
kata Tito.

“Beliau (Mendagri) pengendali inflasi terbaik yang kami
tahu. Saya kita tidak berlebihan kalau kita menyebut beliau (Mendagri) sebagai Bapak
Pengendali Inflasi Indonesia,” tambah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran
Sulaiman.

Menurutnya, kinerja Mendagri sangat baik karena mampu
mengendalikan inflasi hingga mencapai angka 2,84 persen. “Hari ini kita bisa
tersenyum karena inflasi kita. Sekarang ini Argentina inflasinya 120 persen,
Turki 70 persen, Amerika 6 persen dan beberapa negara negara lain tertekan
ekonominya karena inflasi yang tidak bisa terkendali. Jadi, tidak berlebihan
kalau beliau menjadi Bapak Pengendali Inflasi Indonesia,” kata Amran.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

REDMI Note Series Tembus 460 Juta Unit Pengiriman Global

REDMI Note Series menjadi kontributor besar dengan total pengiriman lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img