Senin, Maret 2, 2026

Menperin: Hadapi Revolusi Industri dengan SDM Berkualitas

Must Read

Moneter.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, modal besar Indonesia saat ini dalam menghadapi era revolusi
industri 4.0, yaitu 
membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas secara masif. Terlebih lagi dengan adanya bonus demografi
atau dominasi penduduk berusia produktif, yang potensinya akan dinikmati hingga
tahun 2030.

“Berdasarkan
pengalaman seperti Jepang, China Singapura dan Thailand, saat mereka mengalami
bonus demografi, pertumbuhan ekonominya sangat tinggi. Oleh karenanya, kita
perlu mengambil peluang itu melalui peran generasi muda atau generasi milenial
yang akan menjadi leaders di 2030,”
kata 
Airlangga Hartarto mewakili Wakil Presiden Joko Widodo pada Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (Rakernas HIPMI PT) Tahun 2018 di Jakarta, Sabtu (9/12)..

Untuk
itu, menurut Airlangga, kunci suksesnya adalah meningkatkan kompetensi SDM agar
mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Salah
satunya yang perlu digenjot, dengan menumbuhkan wirausaha industri baru,”
jelasnya.

Airlangga
pun menargetkan kepada HIPMI PT dapat mencetak wirausaha pemula dari para
anggotanya sebanyak satu juta orang. Hal ini guna memenuhi kebutuhan Indonesia
sebesar
4 juta wirausaha baru untuk turut mendorong penguatan
struktur ekonomi. Sebab, saat ini
rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen
dari total populasi penduduk.

“Tolong
dibuatkan short course atau workshop wirausaha di seluruh Indonesia.
Buat target sampai satu juta orang. Kalau butuh fasilitasi, kasih tahu kami.
Siapkan juga roadmap-nya,” ungkap
Menperin.

Upaya
ini sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0, dengan aspirasi besarnya
menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian
terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Guna mencapai sasaran tersebut,
Indonesia juga membutuhkan sebanyak 17 juta tenaga kerja yang melek teknologi
digital
,” ucap Airlangga.

Ia merinci, 4,5 juta di antaranya
adalah tenaga kerja sektor manufaktur dan 12,5 juta tenaga kerja di sektor jasa
yang mendukung manufaktur. Apalagi, potensi era ekonomi digital akan
meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar 150
miliar dollar AS pada tahun 2025. “Kesempatan ini yang perlu
pula kita rebut,” tegasnya.

Kemenperin telah memfasilitasi
pembangunan gedung inkubasi bagi para pelaku usaha rintisan (startup) di beberapa wilayah di
Indonesia, antara lain
Bandung Techno Park, Bali Creative Industry Center (BCIC), Incubator Business Center di Semarang, Makassar
Technopark
, dan Pusat Desain Ponsel di Batam. “Tempat
ini bisa dimanfaatkan secara gratis untuk semua yang ingin berinovasi,”
imbuhnya.

Selain
itu, Kemenperin menggagas pembuatan platform
e-commerce
untuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM), yang bertajuk
e-Smart IKM. Ini sebagai salah satu upaya strategis pemerintah guna membangun
sistem database IKM yang
diintegrasikan melalui beberapa marketplace
yang sudah ada di Indonesia agar lebih memperluas panga pasarnya terutama untuk
menembus ekspor.

Sejak
diluncurkan pada Januari 2017, peserta yang telah mengikuti e-Smart IKM lebih
dari 4.925 pelaku usaha dengan total omzet sudah melampaui Rp1,3 miliar.
Kemenperin pun terus memacu tumbuhnya unicorn,
pelaku startup yang memiliki nilai
valuasi di atas USD1 miliar.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img