Rabu, Januari 14, 2026

Menperin: Industri Manufaktur Tidak Kendur

Must Read

Moneter.id – Pemerintah
bertekad memacu sektor industri manufaktur agar terus meningkatkan nilai tambah
tinggi, terutama melalui penerapan revolusi industri 4.0. Hal ini sejalan upaya
untuk mentrasformasi ekonomi menuju negara yang berbasis industri.

“Aktivitas
industri konsisten memberikan multiplier
effect
bagi pertumbuhan ekonomi nasional, antara lain penerimaan devisa
dari eskpor, pajak, dan cukai serta penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak,”
kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai menjadi Inspektur Upacara
pada Peringatan HUT ke-73 Republik Indonesia di Kementerian Perindustrian,
Jakarta, Jumat (17/8).

Baca juga: Kinerja Industri Manufaktur Indonesia pada triwulan II tahun 2018

Menperin
menjelaskan, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar bagi Produk
Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai mencapai 19,83% pada triwulan II/2018.
Sementara untuk pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, berada di angka 4,41%,
lebih tinggi dibandingkan capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,93%.

Adapun sektor-sektor
yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di kuartal dua
tahun ini, antara lain adalah industri karet, barang dari karet dan plastik
yang tumbuh sebesar 11,85%, kemudian diikuti industri kulit, barang dari kulit
dan alas kaki sebesar 11,38%.

Selanjutnya,
pertumbuhan industri makanan dan minuman tembus 8,67%, serta industri tekstil
dan pakaian jadi mencapai 6,39%. Kinerja dari sektor-sektor manufaktur tersebut
mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

“Tentu
sekarang kita harus melihat ke depan, bahwa sektor manufaktur menjadi salah
satu ujung tombak perekonomian Indonesia karena kontribusinya mencapai 18-20%.
Jadi, kami tetap fokus untuk memperkuat sektor riil di dalam negeri,” paparnya.

Sementara
itu, dilihat dari neraca perdagangan, sektor industri berbasis sumber daya alam
masih menunjukkan kinerja positif. Pada Mei 2018, sektor manufaktur yang
mengalami surplus adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus sebesar
USD387,32 juta, industri kertas dan barang dari kertas USD310,71 juta, serta
industri furnitur USD101,90 juta. Selain itu, sub sektor lainnnya, industri
pakaian jadi juga menunjukkan surplus perdagangan senilai USD696,29 juta.

Selanjutnya, sepanjang tahun 2017,
industri menjadi penyumbang tertinggi hingga 74,10% dalam struktur ekspor
Indonesia dengan nilai mencapai USD125,02 miliar. 

“Rasio ekspor kita pada periode
2015-2017, produk hilir mendominasi sebesar 78%, sisanya produk hulu. Ini
berkat peran dari sektor manufaktur,” ungkap Airlangga.

Bahkan, nilai ekspor sektor industri
terus mengalami peningkatan, dari USD110,50 miliar pada tahun 2016
dan diperkirakan menjadi USD143,22 miliar di tahun 2019. Pada periode
Januari-Juni 2018, total ekspor nasional mencapai USD63,01 miliar,
naik 5,35% dibanding periode yang sama di tahun 2017
sebesar USD59,81 miliar. Peningkatan itu pun didorong kontribusi yang
mayoritasnya dari ekspor industri manufaktur hingga 71,59%.

“Dengan
menerapkan industri 4.0, aspirasi besar nasional yang akan dicapai adalah
membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030 dan mengembalikan
angka net export industri 10% dari total PDB,” tutur Airlangga.

Kontribusi
besar lainnya dari setor manufaktur, yakni penerimaan negara dari Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) industri pengolahan hingga Juli 2018 mencapai 29,9%
atau senilai Rp194,36triliun, yang mampu melampaui sektor perdagangan, jasa
keuangan, dan pertambangan. Bahkan, penerimaan PPN industri pengolahan tersebut
meningkat 12,48% dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

“Tiga sektor
industri dengan pertumbuhan PPN terbesar, yaitu industri tekstil sebesar 223,46%,
industri pakaian jadi sebesar 80,41%, dan industri makanan sebesar 25,81%,”
sebutnya. Lebih lanjut, kontribusi signifikan sektor manufakur juga terlihat
dari penerimaan cukai nasional, yang 90 persennya dari industri hasil tembakau
(IHT) atau senilai Rp149,9 triliun.

“Penerimaan
cukai rokok tersebut setara dengan 10% dari target pendapatan pajak tahun 2017
sebesar Rp1.498 triliun. Penerimaan cukai rokok itu mengalami kenaikan 6% dari
APBNP 2016,” ungkap Menperin.

Sementara dari jumlah penyerapan tenaga kerja,
industri juga beperan penting seiring dengan naiknya pertumbuhan. Pada tahun
2010, terdapat 13,82 juta tenaga kerja di sektor industri, naik menjadi 17,5
juta tenaga kerja di tahun 2017.

Maka itu, di
mata internasional, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara industri
terbesar di dunia. Menurut United Nations Industrial Development Organization
(UNIDO), Indonesia menempati posisi ke-9 dunia sebagai negara penghasil nilai
tambah terbesar dari sektor industri.

Selain itu,
apabila dilihat dari persentase kontribusi industri, Indonesia masuk dalam
peringkat 4 besar dunia. Indonesia juga mengalami peningkatan pada Global
Competitiveness Index, yang saat ini mengalami kenaikan di posisi ke-36 dari
sebelumnya peringkat ke-41.

Menperin
memandang, Hari Kemerdekaan ini menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia
untuk bersama-sama lebih kerja keras membangun dan memajukan negara. Salah
satunya peran dari pelaku industri nasional. “Sesuai tema tahun ini adalah
Kerja Kita, Prestasi Bangsa,” tegasnya.

Airlangga
menyebutkan, pengembangan
Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) menjadi
wujud karya anak bangsa sekaligus kemandirian industri nasional. “Ini kendaraan
yang tengah dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya di pedesaan. Selain sebagai
alat angkut, fungsinya juga mendukung produktivitas pertanian dan perkebunan,”
jelasnya.

Kendaraan pedesaan tersebut telah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada pembukaan Gaikindo Indonesia
International Auto Show (GIIAS) 2018 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, awal
Agustus lalu. “AMMDes ini akan diproduksi massal pada tahun depan,” imbuhnya.

Terdapat 70 industri dalam negeri yang menjadi pemasok
komponen mobil “Pak Tani” tersebut, di mana sebagian besar dari mereka adalah
industri kecil dan menengah (IKM). Saat ini, IKM yang terlibat telah mampu
memproduksi 1
84 jenis
komponen atau setara
70% dari
nilai harga AMMDes yang berkisar
Rp65-70 juta.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img