Moneter.id – Berdasarkan
Making Indonesia 4.0, tekstil dan produk
tekstil (TPT) merupakan satu dari
lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai
pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat. Aspirasi besar
yang akan diwujudkan adalah menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi
nasional masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.
“Industri TPT menjadi salah satu sektor
andalan kita dalam penerapan industri 4.0, dan sektor ini yang kinerjanya naik terus terutama melalui capaian ekspornya. Khusus industri
sarung, pemerintah telah memberikan dukungan penuh terhadap produsen dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Senin
(11/2).
Dalam hal ini, kata Airlangga, Kemenperin akan mengembangkan
potensi sarung sebagai gaya hidup baru bagi masyarakat Indonesia. “Pada
Maret 2019, akan diselenggarakan festival sarung. Apalagi, kita punya
keunggulan motif yang beragam dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Menperin
meyakini, industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global karena
telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini didorong lantaran struktur
industrinya sudah terintegrasi dari
hulu sampai hilir dan
produknya juga dikenal
memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.
Baca
juga: Pemerintah Dongkrak Produktivitas Industri Tekstil dan Pakaian
“Oleh
karena itu, pemerintah terus memacu kinerja industri TPT. Apalagi sektor ini
tergolong padat karya dan berorientasi ekspor sehingga memberikan kontribusi
yang signifikan bagi perekonomian kita,” ujarnya.
Beberapa
langkah strategis telah disiapkan agar industri TPT nasional bisa memasuki era
digital. Misalnya, selama tiga hingga lima tahun ke depan, Kemenperin fokus mendongkrak kemampuan di
sektor hulu untuk meningkatkan produksi serat sintetis. Upaya yang dilakukan,
antara lain menjalin kerja sama atau menarik investasi perusahaan penghasil
serat berkualitas. “Ini juga bertujuan guna menguragi impor,” ujarnya.
Kemudian,
mendorong pemanfaatan teknologi digital seperti 3D printing, automation,
dan internet of things. Transformasi
ini diyakini dapat mengoptimalkan efisiensi dan produktivitas. “Jadi, kami akan
membangun klaster industri tekstil terintegrasi dengan terkoneksi teknologi industri 4.0,” imbuhnya.
Lebih
lanjut, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran permintaan dari
pakaian dasar (basic clothing)
menjadi pakaian fungsional seperti baju olahraga, industri TPT nasional pun
perlu membangun kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonomi agar dapat
memenuhi permintaan pakaian fungsional di pasar domestik maupun ekspor.
Saat
ini, pemerintah juga berupaya
membuat perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Amerika Serikat
dan Uni Eropa untuk memperluas pasar ekspor TPT lokal. Sebab, produk TPT negara tetangga seperti
Vietnam bisa masuk ke pasar Amerika dan Uni Eropa dengan tarif bea masuk nol persen, sedangkan bea masuk
ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20 persen. “Untuk itu, perlu
adanya bilateral agreement tersebut,”
tandasnya.




