Moneter.co.id – Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan tetap komitmen untuk fokus
menyelesaikan tugas yang telah diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ada lima sasaran yang tengah dikejarnya dalam upaya membangun industri yang
inklusif dan berkelanjutan.
“Pertama, kami akan terus mengembangkan
pendidikan vokasi link and match
hingga menghasilkan satu juta tenaga kerja terdidik pada tahun 2019,” ujar
Menperin disiaran persnya, Jumat (05/01).
Upaya ini
menjadi salah satu perhatian pemerintah di tahun 2018 dalam menciptakan sumber
daya manusia yang terampil, terutama di sektor industri. “Dalam menghadapi bonus demografi, vokasi adalah
solusi,” tegasnya.
Baca juga: Menperin:Tahun Ini, 13 Kawasan Industri Ditargetkan Tarik Investasi Rp 250 Triliun
Menperin meyakini, tenaga kerja industri yang kompeten akan mendorong
peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, alhasil dapat membawa dampak
positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Langkah strategis tersebut menjadi mutlak dilakukan guna turut memacu
daya saing Indonesia agar kompetitif di tingkat global. Apalagi, Indonesia
ditargetkan menjadi negara ekonomi terkuat ketujuh di dunia pada tahun 2030.
“Kedua, kami fokus pada pengembangan
kewilayahan industri, guna mewujudkan Indonesia sentris,” kata Menperin.
Upaya ini
merupakan implementasi dari salah satu butir Nawacita, yaitu membangun
Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam
kerangka negara kesatuan.
Ketiga, kata Airlangga, pihaknya tengah
membuat roadmap Industry 4.0. Langkah
ini juga untuk kesiapan dalam menghadapi era ekonomi digital yang sedang
berjalan. “Tidak hanya industri skala besar, kami pun mengajak industri kecil
dan menengah (IKM) agar ikut menangkap peluang dalam perkembangan
teknologi manufaktur terkini,” paparnya.
Terkait
penelitian dan pengembangan sistem dan teknologi Industry 4.0, Kemenperin telah menjajaki kerja sama
untuk melakukan kolaborasi riset dengan Tsinghua University dari China dan
Institute of Technical Education (ITE) dari Singapura.
Selain itu,
Kemenperin telah mencanangkan program e-Smart IKM dalam rangka mendorong para pelaku IKM nasional agar tidak
tertinggal di era digitalisasi yang sedang dihadapi saat ini. Program ini akan
memanfaatkan platform digital melalui
fasilitasi kerja sama antara IKM dengan perusahaan start-up di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang e-commerce dan perusahaan ekspedisi.
Keempat, Airlangga bertekad menjalankan kebijakan
hilirisasi industri, salah satunya di sektor logam. “Indonesia tengah menargetkan
produksi 10 juta ton baja pada tahun 2025. Di samping itu, akan menghasilkan stainless steel sebanyak empat juta ton pada 2019,” ungkapnya.
Dan, kelima, yang menjadi fokus Menteri Airlangga
adalah penciptaan lapangan kerja baru dari sektor industri. Pasalnya, sektor
manufaktur merupakan salah satu kontributor besar bagi perekonomian nasional
melalui penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak.
Kemenperin
memproyeksikan jumlah tenaga kerja di sektor industri manufaktur pada tahun
2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai
15,54 juta orang. Dengan adanya penyerapan tenaga kerja di sektor industri ini,
tingkat penggangguran akan semakin berkurang.
(TOP)




