Moneter.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk hingga posisi per 1 Maret 2018 memiliki total utang yang mesti dibayar (liabilitas) mencapai USD 3,08 miliar atau setara Rp 42,40 triliun (kurs 13.756).
Data tersebut diperoleh dari laporan keuangan perseroan. Rinciannya, utang jangka pendek USD 2,19 miliar dan utang jangka panjang USD 890,16 juta.
Ironisnya, total nilai aset emiten berkode GIAA tersebut ‘hanya’ USD 3,95 miliar atau setara Rp 54,37 triliun. Hanya selisih sekitar Rp 11,97 triliun dari utang perseroan.
Laporan keuangan juga menunjukan, pada triwulan 1 tahun ini GIAA mengalami kerugian mencapai USD 64,27 juta atau sekitar Rp 884,13 miliar.
Di satu sisi, GIAA saat ini memiliki sekitar tujuh anak usaha, yakni PT Sabre Travel Network Indonesia (95 persen), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (89,99 persen), dan PT Aero Systems Indonesia (99,99 persen).
Kemudian, PT Citilink Indonesia (99,99 persen), PT Aero Wisata dan anak perusahaan (99,99 persen), Garuda Indonesia Holiday France SAS (100 persen), dan PT Gapura Angkasa (58,75 persen).
Sebelumnya, Sekretaris Umum 98 Institute Heriyono Nayottama mengatakan, kondisi keuangan GIAA dalam keadaan ‘darurat’ (SOS/Save Our Ship), dan perlu segera diselamatkan.
“Persoalan Garuda saat ini sangat kompleks,mulai dari kerugian keuangan, serikat pekerja, dan masih banyak lagi. Direksi saat ini, terutama direktur utama (dirut) harus segera diganti oleh orang yang tahu persis bisnis Garuda,” kata dia di Jakarta, Selasa (14/8).
Baca juga:
Dia menambahkan, Garuda harus dipimpin oleh orang yang paham dengan pola bisnis perseroan serta memiliki kedekatan dengan pekerja dan stake holder (pemangku kepentingan).
“Sosok itu ada pada I Gusti Ngurah Askhara Dana Diputra alias Ari Askhara yang kini duduk sebagai dirut PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk menggantikan posisi Pahala Nugraha Mansury,” jelas dia.
Reporter: Sam




