Moneter.id – PT Bank OCBC
NISP Tbk (NISP) kembali menerbitkan obligasi berkelanjutan III tahap I tahun
2018 dengan tingkat bunga tetap.
“Aksi
korporasi penerbitan obligasi ini merupakan salah satu langkah strategis Bank
OCBC NISP untuk mendukung pertumbuhan usaha dalam bentuk pemberian kredit,”
kata Direktur Utama OCBC NISP Parwati Surjaudaja.
Hingga 31
Maret 2018, Bank OCBC NISP berhasil menyalurkan kredit senilai Rp110,7 triliun
atau naik 17% YoY jika dibandingkan Rp 94,5 triliun pada periode yang sama
tahun 2017. Adapun penghimpunan DPK tumbuh 10% yoy dari Rp 109,7 triliun menjadi
Rp 121,1 triliun di kuartal I 2018.
Perseroan menjelaskan,
pertumbuhan kredit tersebut seiring dengan kemampuan bank menjaga kualitas
kredit dengan mencatatkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 1,7% dan nett sebesar 0,7%.
“Berdasarkan
jenis penggunaannya, porsi kontribusi kredit modal kerja 45%, kredit investasi
42% dan kredit konsumsi 13%,” ujar Parwati.
Menurutnya, berdasarkan
survei perbankan yang dikeluarkan Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan
kredit akan meningkat di kuartal II.
Selain itu,
momen Ramadan dan Lebaran juga akan mendongkrak permintaan kredit. Kemudian
dalam penerbitan obligasi berkelanjutan ini, Bank OCBC NISP didukung oleh PT
Indo Premier Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT OCBC Sekuritas Indonesia, PT RHB
Sekuritas Indonesia dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin
pelaksana emisi obligasi.
Adapun jadwal
aktivitas penawaran umum obligasi berkelanjutan III tahap I tahun 2018 yakni
masa penawaran umum pada tanggal 2-3 Juli 2018 lalu penjatahan tanggal 4 Juli
2018. Pembayaran investor ke penjamin pelaksana emisi pada tanggal 5 Juli 2018,
lalu distribusi obligasi secara elektronik tanggal 6 Juli 2018 serta pencatatan
pada BEI tanggal 9 Juli 2018 dan pembayaran bunga pertama obligasi 6 Oktober
2018.
Tahun ini, perseroan
memutuskan untuk tidak melakukan revisi target pertumbuhan kredit di tahun ini
yang dipatok 10% sampai 15%. Meski begitu, Parwati menilai bila melihat kondisi
saat ini pertumbuhan kredit cenderung belum terlalu deras.
Hal ini
dikarenakan pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia baru tumbuh 5,1%.
Artinya, kemampuan masyarakat untuk melakukan pinjaman pun baru naik terbatas
lantaran kondisi ekonomi yang belum pulih.
Selain kredit yang dipatok
mampu tumbuh ke level 15%, lanjut Parwati, dana pihak ketiga (DPK) kemungkinan
akan tumbuh di level 10%.
“DPK
kami masih tumbuh 10% di kuartal I 2018, sementara industri cuma 8%. Jadi masih
bisa tumbuh. Walau lebih lambat dari kredit,” tutupnya.
Informasi
saja, Adapun jumlah pokok obligasi sebesar Rp 1 triliun yang akan terdiri dari
3 seri yakni seri A total Rp655 miliar – tenor 370 hari dengan bunga 6,75% per
tahun. Seri B total Rp3 miliar – tenor 2 tahun dengan bunga 7,25%, dan seri C
total Rp342 miliar – tenor 3 tahun dengan bunga 7,75% per tahun, dimana bunga
obligasi dengan tingkat bunga tetap dibayarkan setiap 3 (tiga) bulan sejak
tanggal emisi.
(TOP)




