Rabu, Januari 14, 2026

Pabrik Hot Wheels Indonesia Kuasai Pasar Global

Must Read

Moneter.co.id – Industri
mainan Indonesia telah menunjukkan daya saingnya di kancah global. Hal ini
sekaligus mampu membuktikan bahwa Indonesia termasuk dalam negara-negara produsen
utama untuk beberapa produk unggulan yang telah mendunia.

“Kami
memberikan apresiasi kepada PT Mattel Indonesia dalam pengembangan industri
mainan di Indonesia sejak tahun 1992
. Ini menunjukkan kepercayaan Mattel
terhadap iklim investasi
di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian (Menperin)
Airlangga Hartarto pada Peringatan Ulang Tahun ke-25 PT Mattel Indonesia di Cikarang, Bekasi, Senin (4/11).

 

Apresiasi
tersebut diberikan karena perusahaan ini menyerap tenaga kerja sebanyak 10 ribu
orang dengan nilai ekspor dalam kurun lima tahun terakhir rata-rata di atas USD150
juta per tahun.

 

Pasalnya,
Kementerian Perindustrian tengah memacu pengembangan industri di dalam negeri
yang berbasis padat karya dan berorientasi ekspor.

 

Selain
itu, Menperin mengaku sangat bangga karena Indonesia adalah produsen boneka
merek Barbie terbesar di dunia yang dihasilkan PT Mattel Indonesia. Perusahaan ini
memasok 60 persen ke seluruh pasar global atau telah mengungguli produksi
China.

 

“Jadi,
enam dari 10 boneka yang beredar di dunia itu berasal dari Indonesia, dibuat
dengan tangan-tangan terampil anak bangsa kita,” ujarnya.

 

Menariknya lagi, Indonesia memiliki pabrik mobil dengan kapasitas produksi
yang cukup besar dengan
mencapai 50 juta unit per tahun. “Itu pabrik Hot Wheels di Cikarang milik PT Mattel Indonesia. Industri otomotif mini lebih besar 50 kali
dari otomotif benaran,” ungkapnya.

 

Hot Wheels merupakan mobil mainan diecast atau dibuat dari bahan logam yang dicetak. “Pabrik ini juga sudah mengaplikasikan sistem kerja di era Industry
4.0. Revolusi industri ke-4 merupakan tahap perkembangan industri saat ini yang
menggabungkan tenaga manusia, robot dan teknologi informasi dalam proses
produksinya,” jelas Airlangga.

 

“Dari
sumbangsih yang besar tersebut, kami mendorong PT Mattel Indonesia untuk
membuat edisi khusus Indonesia baik Barbie maupun Hot Wheels-nya yang juga bisa
dipasarkan ke seluruh dunia,” ucap Airlangga.

 

Oleh
karena itu, Kemenperin terus mendorong agar industri ini semakin produktif dan
berinovasi untuk menciptakan produk mainan yang mendidik dan menyenangkan.

 

“Tidak hanya mampu memproduksi mainan Barbie maupun Hot Wheels, tetapi
perusahaan ini juga
memiliki kemampuan engineering
dan inovasi yang luar biasa. Di mana, engineer
nasional di sini sudah
bisa membuat mesin-mesin yang presisi,” ujarnya.

 

Ini artinya, lanjut Menperin kekuatan manufacturing
di sini berbasis talenta lokal.
Apalagi, hari ini di-launch
Barbie Batik, menunjukkan Mattel akan mem-branding
produk asli Indonesia,”
paparnya. 

 

Selain
itu, Menteri Airlangga mengucapkan terima kasih atas partisipasi PT Mattel
Indonesia dalam program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan dengan
industri. Upaya ini seiring langkah pemerintah membentuk tenaga kerja kompeten
sesuai kebutuhan industri, khususnya di industri mainan yang memiliki keunikan
sehingga membutuhkan keahlian khusus.

 

“Pengembangan
human capital Mattel ini searah dengan agenda Kemenperin dalam
pengembangan human capital yang
kompeten,” tegasnya. Untuk menandai komitmen terhadap pengembangan
industri mainan di Indonesia, Menperin menyaksikan penandatangan komitmen oleh
Peter Gibbon, Executive Vice President and Chief Supply Chain Officer, Mattel,
Inc.

 

“Kami sampaikan bahwa ekspor komoditas mainan sampai dengan bulan September
tahun 2017 ini
mencapai USD 228,39 juta atau naik sebesar 8,97 persen dibandingkan periode
yang sama tahun 2016
(YoY) sebesar USD209,59 juta,” paparnya.

 

Sementara
itu, Presiden Direktur PT Mattel Indonesia, Roy Tandean menyampaikan, perusahaan
terus memperkuat pusat produksi bonekanya melalui kolaborasi dengan industri
kecil dan menengah (IKM) di Indonesia.

 

“Saat
ini, kami memproduksi hingga dua juta boneka per minggu dengan lebih dari 500
pemasok dan IKM yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai pasokan
Mattel,” tuturnya.

 

Kontribusi signifikan

Pada
kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengemukakan,
kinerja industri mainan memberikan kontribusi cukup signifikan bagi pertumbuhan
manufaktur dan ekonomi nasional. Terlebih lagi, industri mainan tergolong
sektor padat karya yang berorientasi ekspor.

 

“Kami
sampaikan bahwa ekspor komoditi mainan sampai dengan bulan September tahun 2017
ini mencapai USD 228,39 juta atau naik sebesar 8,97 persen dibandingkan periode
yang sama tahun 2016 (YoY) sebesar USD209,59 juta,” paparnya.

 

Selanjutnya,
penyerapan tenaga kerja di sektor industri mainan sebanyak 23.116 orang dengan
nilai investasi pada tahun 2016 sebesar USD14,76 juta dan sampai triwulan III
tahun 2017 telah mencapai USD9,52 juta.

 

“Aktivitas industri yang konsisten membawa dampak yang luas bagi
perekonomian nasional. Multiplier effects
tersebut antara lain peningkatan
pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja
lokal, dan penerimaan devisa dari
ekspor,” sebut Airlangga.

 

Menperin
mengungkapkan, pihaknya tengah mengusulkan suatu skema insentif baru bagi
industri nasional agar kinerjanya semakin produktif dan berdaya saing di
tingkat global. Salah satunya untuk industri padat karya berorientasi ekspor,
yang akan diberikan fasilitas berupa pengurangan pajak melalui penghitungan
berbasis kepada jumlah penyerapan tenaga kerjanya.

 

“Misalnya,
mereka mempekerjakan sebanyak 1.000, 3.000 atau di atas 5.000 tenaga kerja. Itu
kami akan berikan scheme
tax allowance
tersendiri. Ini yang sedang kami bahas dengan
Kementerian Keuangan,” ungkapnya.

 

Dalam
upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional, Menteri Airangga pun
menegaskan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kinerja sektor manufaktur melalui
berbagai langkah strategis. Di antaranya adalah menerbitkan sejumlah paket
kebijakan ekonomi, melakukan deregulasi, serta memangkas berbagai peraturan,
perizinan, dan birokrasi yang dirasa menghambat.

 

“Seluruh
upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif serta
memudahkan para pelaku industri berusaha di Indonesia,” imbuhnya.

 

Dirjen
Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan,
pemerintah juga berupaya melindungi
produk dan pasar dalam negeri serta
menghindari
gempuran produk impor yang tidak berkualitas
melalui Standar Nasional Indonesia (
SNI).

 

Menurut
Sigit, p
enerapan SNI mampu
meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Selain itu, memberikan jaminan terhadap produk yang masuk
ke pasar
domestik merupakan yang berkualitas
dan aman bagi konsumen

serta
menembus pasar ekspor. 

“Standar produk merupakan technical
barrier
yang dapat
diterima oleh seluruh negara,
karena
memberikan efek positif, antara
lain
menjamin
keamanan, keselamatan dan kualitas produk
,”
pungkasnya. (TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Indonesia – KOICA Kembangkan Sistem Metrologi Legal EVSE

Kementerian Perdagangan bersama Korean International Cooperation Agency (KOICA) meluncurkan proyek pengembangan sistem metrologi legal kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img