Rabu, Januari 14, 2026

Pelaku Industri Jepang Akan Investasi Senilai Rp 40 Triliun ke Indonesia Hingga 2023

Must Read

Moneter.id – Kementerian
Perindustrian
(Kemenperin) menyatakan
sejumlah pelaku industri skala besar di Jepang akan
berinvestasi ke Indonesia dengan total Rp40 triliun hingga
tahun 2023. Komitmen investasi ini menjadi kabar baik yang diharapkan dapat
terealisasi dengan cepat sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat
struktur manufaktur di dalam negeri.

“Kami
sampaikan bahwa secara garis besar dari hasil pertemuan dengan pelaku industri di
Jepang sangat produktif. Sudah ada beberapa komitmen untuk investasi baru dan
pengembangan (ekspansi),” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
sesuai keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (19/11).

Pada Senin
(18/11), Menperin Agus melakukan one on one meeting secara maraton
dengan delapan korporasi asal Negeri Sakura di Tokyo, Jepang. Para investor
tersebut, di antaranya adalah direksi Nippon Steel, Nippon Shokubai, AGC Inc, dan
Toyota Group.

Nippon
Shokubai siap melakukan investasi baru sebesar USD200 juta untuk pabrik acrylic
acid
berkapasitas 100.000 metrik ton. Saat ini, kapasitas produksi pabrik
Nippon Shokubai sebesar 140.000 metrik ton sehingga pada November 2021 menjadi
240.000 metrik ton
,” kata Agus.

Baca juga: Dari Jepang dan Korsel, Menperin Incar Investasi USD 5 Miliar

Selain itu,
lanjut
Agus,
PT
Asahimas Chemical, anak perusahaan AGC Inc. Jepang, akan juga menggelontorkan dananya
senilai Rp1,3 triliun untuk ekspansi pabrik fase ke-7 di Cilegon Banten.

Investasi
tersebut untuk perluasan pabrik Polivinil Klorida (PVC) fase ke-7 dengan kapasitas
200.000 metrik ton per tahun. Pabrik ini ditargetkan rampung dan komersialisasi
pada semester I tahun 2021
,” paparnya.

Menperin
menyampaikan, pihak Asahi sempat mempertanyakan pasokan bahan baku untuk
mendukung proses industrinya di Indonesia. Mengenai hal tersebut, Kemenperin
selaku pembina sektor manufaktur akan menjaga kelancaran pasokan bahan baku
untuk industri, termasuk kebutuhan garam.

“Soal
keberlanjutan bahan baku garam, kami sudah berikan komitmen untuk hal itu. Jadi,
berapapun yang dibutuhkan industri, itu akan kami berikan kemudahan. Dengan
catatan, belum tersedia di dalam negeri,” ujar Agus.

Beberapa
hal yang perlu menjadi perhatian, antara lain mengenai pasokan bahan baku, upah
pekerja, dan regulasi.
Seperti Asahimas Group yang
meminta diperhatikan suplai gas sebagai bahan baku atau paling tidak harga gas
industri tidak naik lagi,” ungkanya.

Untuk
merespons tentang harga gas industri, Menperin menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi
di tingkat lintas kementerian seperti dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM).

“Apalagi,
sekarang sudah ada aturan dari Menteri ESDM untuk menunda kenaikan harga gas
dengan jangka waktu yang tidak ditentukan,” jelasnya.

Sedangkan,
mengenai upah, pelaku industri Jepang berharap adanya perbaikan upah pekerja di
Tanah Air. Untuk itu, Menperin berkomitmen untuk melihat kembali sistem
pengupahan yang berlaku saat ini.

“Kami
akan lakukan pendekatan sektoral, tidak hanya pendekatan wilayah saja. Industri
yang menghasilkan devisa atau padat tenaga kerja perlu kita beri treatment
khusus,” tandasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img