Senin, Maret 2, 2026

Pemerintah Beri Perhatian Serius Pada Industri Berorientasi Ekspor

Must Read

Moneter.id – Pemerintah Indonesia berharap kontribusi ekspor sektor manufaktur
dapat memperkuat struktur perekonomian saat ini. Sepanjang tahun 2019, industri
memberikan kontribusi terbesar hingga tembus 126,57 miliar dollar AS atau 75,5%
dari capaian nilai ekspor nasional.

“Oleh karena itu, kami memberikan perhatian serius
terhadap pengembangan sektor-sektor industri yang berorientasi ekspor,” kata
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ketika menjadi narasumber pada
Rapat Kerja Kementerian Perdagangan Tahun 2020 di Jakarta, Rabu (4/3).

Adapun lima sektor industri pengolahan nonmigas yang
mencatatkan nilai ekspornya paling besar pada tahun 2019, yakni industri makanan
dan minuman yang mampu menembus hingga 27,28 miliar dollar AS. Kemudian, industri
logam dasar sebesar 17,37 miliar dollar AS, serta industri tekstil dan pakaian
jadi mencapai 12,90 miliar dollar AS.

Selanjutnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan
kimia menyumbang 12,65 miliar dollar AS, serta industri barang dari logam, komputer,
barang elektronik, optik dan peralatan listrik yang menyetor senilai 11,91
miliar dollar AS.

“Pada Januari 2020, nilai ekspor produk industri mencapai
10,52 miliar dollar AS atau berkontribusi sebesar 78,45% dari total nilai ekspor
nasional sebesar 13,41 miliar dollar AS,” ungkap Menperin.

Nilai ekspor terbesar diberikan industri makanan dan
minuman (2,10 miliar dollar AS), diikuti industri logam dasar (1,74 miliar
dollar AS) serta industri tekstil dan pakaian jadi (1,08 miliar dollar AS).

Agus menyebutkan, Amerika Serikat menjadi negara tujuan
utama pengapalan produk industri nasional. Negara berikutnya, China, Jepang,
Singapura, dan India. “Pemerintah terus berupaya membuka akses perluasan pasar
ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional,” tegasnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian bersama pemangku
kepentingan terkait saling bersinergi untuk semakin mendongkrak daya saing
produk manufaktur agar bisa menembus kancah internasional. “Dalam hal ini, negara
harus hadir. Misalnya, kami terus berkoordinasi dengan Kemendag,” ujarnya.

Menperin menyebutkan, upaya strategis
untuk menggenjot nilai ekspor produk industri nasional, antara lain dilakukan
melalui diversifikasi produk industri unggulan, membuka secara agresif
pasar-pasar baru, dan mendorong investasi untuk menjadikan Indonesia sebagai basis
ekspor.

Selain itu, Kemenperin sudah
memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot
kinerja ekspornya. Ke-15 sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan
minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan
barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet,
industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Selanjutnya, industri alas
kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan
bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa
dari besi, industri alat mesin pertanian dari besi, industri elektronika
konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.

Menperin berharap kepada Lembaga
Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dapat memperluas fasilitasnya untuk
jenis-jenis produk manufaktur nasional yang punya potensi pasar ekspor.
Salah satu fasilitas yang diberikan untuk
mengerek ekspor produk industri, yaitu melalui Penugasan Khusus Ekspor (PKE).

“Kami juga concern
terhadap hilirisasi dan substitusi impor, untuk menekan defisit neraca perdagangan,”
jelasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pemerintah Tegaskan Perjanjian Dagang AS Tidak Tambah Kuota Impor Energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan perjanjian perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat tidak...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img