Moneter.id – Chief Executive Officer Standard Chartered Bank
Indonesia, Rino Donosepoetro menyatakan pelaksanaan Pemilu serentak 2019
diprediksi tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kami percaya kedewasaan politik masyarakat
Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan negara lain sehingga kami
berpendapat ini (Pemilu 2019) tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia,” kata Rino di Kota Bandung, Kamis (07/2).
Pihaknya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada 2019 akan tetap terjaga karena didukung oleh keberhasilan reformasi
fundamental ekonomi Indonesia.
Rino mengatakan 2019 merupakan tahun yang menarik
dan di tahun ini keputusan finansial dan berinvestasi akan dipengaruhi nuansa
politik mengingat adanya Pemilu yang segera berlangsung.
“Kami optimistis pertumbuhan ekonomi nasional
akan tetap terjaga, didorong oleh fundamental ekonomi yang kuat serta peningkatan
daya beli rumah tangga dan pemulihan sektor investasi swasta,” kata Rino.
Rino mengatakan dengan melihat peluang dan landasan
yang kuat tersebut maka pihaknya terus mencari solusi untuk dapat memenuhi
kebutuhan berinvestasi bagi nasabah melalui produk-produk inovatif bank.
“Dan dalam event Wealth on Wealth, Standard
Chartered Bank secara global selalu sharing pandangan ekonomi global, regional,
dan di Indonesia sendiri. Kalau kita prediksikan, ekonomi global pertumbuhannya
melambat dari 3,8% tahun lalu dan 3,6% tahun ini,” katanya.
Dia menjelaskan pelambatan pertumbuhan ekonomi
global dipicu perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat, keluarnya Inggris
dari Uni Eropa, dan kondisi terkini Timur Tengah.
Akan tetapi, kata dia, untuk di Indonesia sendiri
akan terjadi hal yang berbed yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17%
tahun lalu dan bisa berlanjut di 2019 dengan angka tidak jauh dari sebelumnya
“Dan ini luar biasa, pertumbuhan ekonomi
Indonesia sangat kuat dan bisa berlanjut sampai akhir 2019. Di awal tahun ini
kita saksikan kembalinya investasi asing di Indonesia, dengan kebijakan fiskal
dan moneter yang mumpuni, ini dianggap menarik bagi investor asing,”
ujarnya.
Sementara itu, Chief Economist Standard Chartered
Bank Indonesia, Aldian Taloputra, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup
stabil di angka 5,2% ini dikarenakan domestic demand yang masih cukup kuat.
Strategi pemerintah dalam menjaga daya beli cukup berhasil.
“Jadi investasi tahun kemarin masih membantu
pertumbuhan ekonomi dan akan terjadi di 2019. Ekonomi tumbuh, income tumbuh,
pemerintah juga berhasil menjaga harga makanan dan energi sebelum Pemilu.
Akibatnya, inflasi turun dari 3,6% ke 3,2%,” katanya.
Menurut Aldian peningkatan ekonomi Indonesia terjadi
sekitar minimal 5,1% dengan proyeksi rupiah menguat. Niilai tukar rupiah yang menguat di
angka 13,800 paling tidak di akhir 2019 bisa menjadi 14.600.
“Kemudian BI juga menjaga suku bunganya. BI
biasanya dipengaruhi dari eksternal, kalau Fed naikkan suku bunga, BI bisa ikut
menaikkan. Arah kebijakan suku bunga BI lebih untuk merespon hal
eksternal,” katanya. (Ant)




