Bank Indonesia (BI) menilai aktivitas perdagangan ritel masih menunjukkan daya tahan pada Juni 2026 meski penjualan secara bulanan masih mengalami kontraksi. Perbaikan laju penurunan tersebut mengindikasikan konsumsi rumah tangga tetap terjaga di tengah berakhirnya momentum hari besar keagamaan dan mulai bergulirnya musim libur sekolah.
Dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis Kamis (9/7), BI memprakirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 mencapai 221,6. Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan, terutama pada kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan turun 0,8% month to month (mtm). Meski masih berada di zona negatif, angka tersebut membaik dibandingkan kontraksi pada Mei 2026 yang mencapai 1,5% mtm.
Bank Indonesia menjelaskan, perbaikan tersebut tidak lepas dari meningkatnya aktivitas belanja masyarakat menjelang dimulainya libur sekolah pada akhir Juni. “Perkembangan ini dipengaruhi oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026,” tulis Direktur Eksekutif BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi.
Sementara itu, realisasi IPR pada Mei 2026 tercatat sebesar 223,4. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan masih ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, serta barang budaya dan rekreasi.
Pada sisi bulanan, kontraksi penjualan Mei sebesar 1,5% mtm juga menunjukkan perbaikan dibandingkan April yang sempat turun hingga 11,6% mtm. BI menyebut kondisi tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Di tengah prospek konsumsi yang masih terjaga, BI mengingatkan adanya potensi peningkatan tekanan harga pada Agustus 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus diperkirakan naik menjadi 178,0 dari 175,8 pada Juli.
Menurut BI, kenaikan ekspektasi harga tersebut dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku. Sementara itu, tekanan harga pada November diperkirakan relatif stabil. Hal itu tercermin dari IEH November yang diproyeksikan sebesar 167,5, hampir tidak berubah dibandingkan Oktober yang berada di level 167,6.
Temuan survei tersebut menunjukkan konsumsi domestik masih menjadi penopang aktivitas perdagangan ritel pada pertengahan tahun, meski pelaku usaha mulai mencermati potensi kenaikan biaya produksi yang dapat memengaruhi perkembangan harga pada paruh kedua 2026.




