Jumat, Maret 13, 2026

Perundingan PTA Indonesia-Mozambik Selesai, Siap Ditandatangani!

Must Read

Moneter.id – Menteri
Perdagangan RI Enggartiasto Lukita; Duta Besar Indonesia di Maputo, Mozambik,
Tito Dos Santos Baptista; dan Duta Besar Mozambik di Indonesia, Belmiro Jose
Malate menegaskan, proses perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) antara
Indonesia dan Mozambik telah selesai dan disepakati kedua belah pihak serta
siap untuk ditandatangani kedua Menteri Perdagangan dalam waktu dekat.

“Selesainya perundingan IM-PTA ini merupakan
sejarah baru bagi Indonesia karena merupakan perundingan pertama yang
diselesaikan dengan kawasan Afrika. Negosiasi IM-PTA ini juga relatif cepat
karena baru diluncurkan April 2018 dan kini telah selesai. Bagi Indonesia,
perundingan IM-PTA adalah tindak lanjut kebijakan dan instruksi Presiden Joko
Widodo untuk meningkatkan akses ke pasar nontradisional guna mendorong ekspor,”
ujar Mendag, Rabu
(21/8).

Mendag
juga menyampaikan, Mozambik merupakan pasar potensial karena memiliki pelabuhan
laut dan zona perdagangan bebas sehingga diharapkan dapat menjadi hub masuknya
produk Indonesia ke kawasan Afrika bagian Selatan.

“Dengan telah diselesaikannya perundingan PTA
dengan Mozambik, diharapkan dapat memberikan sinyal kuat kepada pengusaha bahwa
pemerintah kedua negara berkomitmen meningkatkan hubungan perdagangan,”
tandas Mendag.

Informasi, IM-PTA
merupakan hasil dari pertemuan antara Presiden RI Joko Widodo dan Presiden
Mozambik, Filipe Jacinto Nyusi, yang berlangsung di sela-sela Konferensi
Tingkat Tinggi Indian-Ocean Rim Association (IORA) pada Maret 2017.

Kala
itu, kedua Pemimpin Negara sepakat meningkatkan hubungan perdagangan kedua
negara. Perundingan IM-PTA dimulai pada April 2018 di Bali dan berhasil
diselesaikan dalam tiga putaran.

“IM-PTA terbatas pada perdagangan barang yang hanya
mencakup produk-produk prioritas serta unggulan kedua negara dengan tetap
mengutamakan kepentingan nasional. PTA diharapkan dapat memberikan keuntungan
dan dampak perekonomian yang cepat serta meningkatkan perdagangan kedua negara.
Menurut hasil kajian Kemendag, PTA berpotensi meningkatkan surplus neraca
perdagangan Indonesia,”
jelas
Mendag.

Indonesia,
lanjut Mendag, memberikan tarif preferensi terhadap sekitar 200 pos tarif
kepada Mozambik, diantaranya kapas, tembakau, produk perikanan, sayur-sayuran,
dan kacang-kacangan. Mozambik juga memberikan tarif preferensi sekitar 200 pos
tarif kepada Indonesia, diantaranya produk perikanan, buah-buahan, minyak
kelapa sawit, margarin, sabun, karet, produk kertas, alas kaki, serta produk
tekstil.

“Dengan diselesaikannya perundingan PTA
dengan Mozambik, kami mendorong agar pelaku usaha Indonesia dapat mulai melihat
peluang pasar baru dan memanfaatkan potensi pasar nontradisional. IM-PTA
merupakan perjanjian perdagangan bilateral pertama bagi Mozambik. Dengan
demikian, produk Indonesia akan lebih kompetitif dibandingkan produk negara
lain di pasar Mozambik. Di samping itu, importir Indonesia dapat mengimpor
bahan baku dengan harga yang lebih murah untuk kemudian diolah dan diekspor ke
negara lain,” ungkap Mendag.

Mendag
juga mengapresiasi sinergi yang dijalin Kemendag RI dan kementerian/lembaga
terkait serta Kedutaan Besar RI di Mozambik sehingga dapat menyelesaikan
perundingan IM-PTA.

Sekilas
Perdagangan Indonesia-Mozambik

Mozambik
merupakan negara tujuan ekspor ke-17 dan sumber impor ke-18 bagi Indonesia di
benua Afrika. Total perdagangan Indonesia-Mozambik tahun 2018 sebesar USD 91,88
juta; dengan ekspor Indonesia tercatat senilai USD 61,4 juta dan impor sebesar
USD 30,5 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus USD 30,9 juta.

Produk
ekspor utama Indonesia ke Mozambik pada 2018 adalah minyak kelapa sawit dan
turunannya (USD 27,3 juta), sabun (USD 9,8 juta), industrial monocarboxylic
fatty acids
(USD 7,9 juta), organic surface-active agents (USD 3,3
juta), kertas dan karton (USD 2,8 juta), karung dan tas (USD 1,5 juta),
margarin (USD 1,5 juta), semen portland (USD 1,1 juta).

Sedangkan,
produk impor utama Indonesia dari Mozambik adalah kacang tanah (USD 22,6 juta),
tembakau tidak diolah (USD 4,1 juta), kapas (USD 2,8 juta), bijih mangan dan
konsentrat (USD 417 ribu), besi paduan (USD 246 ribu), kacang polong
kering (USD 197 ribu).

Sementara
itu, total perdagangan Indonesia dengan kawasan Afrika pada 2018 hanya mencapai
USD 11,25 miliar, terdiri dari ekspor Indonesia sebesar USD 4,76 miliar dan
impor Indonesia sebesar USD 6,49 miliar.

“Dengan populasi Afrika yang sebanyak 1,2
miliar penduduk, total perdagangan Indonesia dan Afrika masih rendah. Pasar
Afrika juga masih sangat potensial bagi produk-produk Indonesia guna
memperbaiki neraca perdagangan Indonesia dengan Afrika,” pungkas Mendag.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sustainability Bond Tahap II Bank bjb, Catat Permintaan Hingga Rp932,4 Miliar

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menawarkan Sustainability Bond Tahap II dengan permintaan investor telah mencapai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img