Moneter.co.id – Anak perusahaan dari PT Pos Indonesia
yakni, PT Pos Properti Indonesia berencana mengembangkan kantor layanan pos
menjadi ruang tempat tinggal serta bekerja co-living space di wilayah Bandung,
Jawa Barat (Jabar).
Direktur Utama PT Pos Properti Indonesia Handriani Tjatur
Setijowati mengatakan saat ini perusahaan tengah menguji coba pengembangan co-living space di atas lahan milik Pos Indonesia seluas 500-600 meter
persegi, yakni di area komersil yang dekat dengan lokasi kampus.
“Co-living ini rencananya lebih besar dan tinggi bangunannya, seperti
apartemen tetapi satu kamar bisa diisi beberapa orang, ada pantry, kamar mandi, ruang belajar bersama,” kata Handriani,
di Jakarta, Sabtu (03/02).
Handriani menjelaskan bisnis pengembangan aset Kantor Pos
Indonesia menjadi co-living serta ruang kolaborasi coworking space ini dilakukan untuk
menyasar generasi millenial. Co-living space ini bisa
dimanfaatkan tidak hanya mahasiswa, tetapi juga pekerja yang jauh dari lokasi
tempat tinggalnya.
Ada pun biaya investasi yang dikeluarkan Pos Properti
Indonesia untuk mengembangkan co-living dan coworking space berkisar antara
Rp10 miliar sampai Rp15 miliar.
“Investasinya kecil tidak sampai Rp25 miliar untuk satu
lokasi karena kami juga akan menawarkan pada para investor dan developer yang
membangun. Kami hanya investasi di tanah saja, lalu nanti skemanya bagi
hasil,” kata Handriani.
Meski dikembangkan menjadi ruang kolaborasi dan tempat
tinggal bersama, kantor layanan PT Pos tetap dipertahankan selain untuk
memfasilitasi konsumen dalam mengirim barang dan melakukan pembayaran, juga
sebagai ikon perusahaan.
Pos Properti Indonesia sejak tahun lalu proaktif menawarkan
ke sejumlah investor untuk pengembangan aset PT Pos Indonesia. Apalagi
perseroan tersebut memiliki jaringan 4.700 kantor secara keseluruhan di
Indonesia.
Pos Properti mulai menyusun rencana pengembangan aset
terutama di atas lahan 1.000 meter persegi untuk ditawarkan kepada investor,
baik dalam bentuk ruang kolaborasi, co-living space, maupun hotel.
“Pertumbuhan kami memang didorong signifikan dari tahun
lalu. Tahun ini tuntutannya 40% untuk pertumbuhan omzet. Utilisasi aset juga
masih kecil terutama di kota-kota besar, baru sekitar 5%,” pungkasnya.
(HAP)




