Moneter.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mencatat pendapatan
bersih senilai US$1,39 miliar per 30 September 2019 lalu. Pendapatan itu turun
29,28% dibandingkan dengan pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya, yang
sebesar US$1,96 miliar.
“Pendapatan sebelum eliminasi berasal dari segmen olefin
senilai US$476,07 juta, polyolefin senilai US$644,9 juta, styrene monomer
senilai US$285,99 juta, dan butadiene senilai US$133,61 juta, dan sewa tangki dan
dermaga senilai US$7,65 juta,” tulis dalam laporan keuangan perseroan yang
dirilis di Jakarta, Rabu (25/12).
Perseroan mencatatkan penyusutan beban pokok pendapatan
sebesar 24,53% secara tahunan menjadi US$1,22 miliar. Sehingga, laba kotornya
menjadi US$167,31 juta atau merosot 51,54% secara tahunan.
“Perseroan juga mencatatkan kenaikan beban keuangan
sekitar 10,64% secara tahunan menjadi US$42,1 juta. Sementara itu, rugi kurs
mata uang asing dapat ditekan 84,99% menjadi US$2,71 juta,” tulisnya lagi.
“Kinerja kuartal III/2019 memang agak berat karena
turnaround maintenance (TAM) terjadwal selama Agustus-September 2019. Dengan
dilakukannya TAM selama hampir 2 bulan itu, otomatis kegiatan operasional mesin
berkurang yang berdampak pada volume penjualan yang lebih rendah,” kata Kata
Direktur Chandra Asri, Suryandi.
Dengan menurunnya pendapatan dan naiknya pos beban, laba
bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melorot 81,48% dari US$169,85
juta per kuartal III/2018 menjadi US$31,46 juta per kuartal III/2019.
Di sisi aset, perseroan memiliki aset senilai US$3,18
miliar per 30 September 2019, sedikit lebih tinggi dari total aset per 31
Desember 2018, yang senilai US$3,17 miliar. Adapun nilai liabilitas yang
dimiliki sebesar US$1,40 miliar dan ekuitas US$1,78 miliar.
Volume penjualan turun dari 1.619 KTA per kuartal
III/2018 menjadi 1.394 KTA per kuartal III/2019. Meski begitu, TAM dilakukan
lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan, yakni dari 55 hari menjadi 51
hari.
TAM terjadwal setiap 4 tahun. Tujuannya, agar kapasitas
pabrik dapat lebih diandalkan dan terjamin. Dengan kata lain, pengoperasian
pabrik dapat berjalan lebih baik dan tingkat utilisasi di atas 90%.
”Selama Agustus-September 2019 ada TAM yang sangat
berpengaruh ke bottom line, karena waktu operasi pabrik berkurang. Sehingga
kuartal III/2019 agak berat,”ujarnya.
Untuk tahun 2020, katanya, guna meningkatkan permodalan
dalam ekspansi bisnisnya, perseroan akan menggelar rights issue. “Salah satu tujuan aksi korporasi ini adalah, untuk
membantu kebutuhan investasi pembangunan pabrik Chandra Asri Perkasa 2 (CAP 2),”
ujarnya.
TPIA membutuhkan dana sekitar US$ 5 miliar untuk
membangun pabrik tersebut. Prosesnya saat ini dalam tahap seleksi calon investor
strategis.
Dari sebelumnya ada empat calon, jumlahnya kini
mengerucut jadi dua calon, yakni Mubadala Investment Co. dan OMV
Aktiengesellschaft.




