Moneter.id – Politisi Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek
Soeharto mengajak seluruh masyarakat mempererat tali silaturahmi dan menjaga
persaudaraan serta mengesampingkan perbedaan pilihan menjelang pemilihan presiden
dan wakil presiden April 2019 mendatang.
“Tujuan politik itu luhur, bukan justru jadi alat
memecah belah. Islam mengajarkan kita saling memaafkan,” kata Titiek, Senin (18/03).
Putri Presiden Soeharto itu juga mengutip kearifan
Jawa yang selalu diajarkan oleh almarhum ayahnya. “Ayah kami, Bapak kita semua
selalu menasihati, aja mung nyatur alaning liyan. Jangan hanya
membicarakan kejelekan orang lain,” paparnya.
Titiek menambahkan hal yang sama saat menghadiri
acara peringatan Isra dan Miraj bersama Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di
Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu, 16 Maret 2019 lalu. Pada
forum BKMT tersebut Titiek juga mengajak ibu-ibu majelis taklim untuk arif
dalam menyikapi suasana cenderung panas menjelang pemilihan presiden (Pilpres).
Dengan kearifan itu ia berharap hal-hal negative
bisa diusir sejauh-jauhnya. “Kita semua berharap pascapemilu nanti persatuan
dan persaudaraan bangsa ini bisa semakin kokoh.”
Sebelum bergabung menjadi pengurus Partai Berkarya,
Titiek lama menjadi wakil ketua Komisi IV DPR RI dari Partai Golkar. Saat
menjadi wakil rakyat tersebut Titiek pernah meminta Kementerian Pertanian
memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan petani bawang putih demi tercapainya
swasembada bawang putih pada 2021.
Bukan hanya bantuan,Titiek juga meminta Balitbang
dan Kementan untuk melihat wilayah-wilayah di seluruh Indonesia yang potensial
dan layak ditanami bawang putih.
“Impor bawang putih di tahun 2017 itu besarnya
mencapai 550 ribu ton sedangkan kita hanya mampu menghasilkan sekitar 20 ribu
ton. Ini sangat keterlaluan. Padahal wilayah kita sangat luas,” kata Titiek
saat itu.
Selain itu, Titiek juga giat mendorong pemerintah
untuk segera melakukan swasembada daging sapi. Tujuannya agar Indonesia tidak
tergantung kepada daging impor dalam upaya menstabilkan harga.
“Kasus daging sapi impor itu tidak hanya
seperti sekarang. Setiap mau puasa, Lebaran harga pasti naik,” kata
Titiek.
Titiek menyatakan komitmen demi terwujudnya
swasembada dagung tersebut lebih dari tiga tahun lalu. Saat itu ia sudah
mewanti-wanti agar pemerintah tak selalu mengandalkan impor demi pemenuhan
kebutuhan daging masyarakat.
“Jangan terus menerus mengimpor daging sapi,”
kata Titiek di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) di
Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul, 2016 lalu.




