Produsen kopi premium asal Sumatera Selatan, PW Kopi, terus memperkuat posisinya di industri kopi nasional setelah berhasil mengantongi Sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk kopi sangrai dan kopi bubuk. Sertifikasi ini menjadi fondasi penting bagi perusahaan dalam memperluas pasar, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta mendorong kopi premium Sumsel menembus pasar ekspor.
Di tengah status Sumatera Selatan sebagai daerah penghasil kopi terbesar nomor satu di Indonesia, PW Kopi hadir membawa misi bisnis yang sekaligus mengangkat identitas kopi daerah. Didirikan sejak 2015 oleh pasangan Agoeng Perdana atau Bang Joe dan Angela Anggraeni, perusahaan ini tumbuh dari kepedulian terhadap rendahnya eksposur kopi premium asal Sumsel di pasar domestik.
“Kita pun sebagai putra daerah baru tahu kalau Sumsel merupakan provinsi dengan produksi kopi terbesar nomor satu di Indonesia. Kita juga tidak tahu di mana harus mencari kopi itu,” ujar Bang Joe, mengenang awal berdirinya usaha tersebut.
Berangkat dari kondisi tersebut, PW Kopi memulai bisnis dari skala kecil melalui model repackaging, sebelum kemudian masuk ke lini produksi dan roastery secara penuh pada 2017. Investasi awal dilakukan melalui pembelian mesin roasting lokal berkapasitas 3 kilogram, yang kemudian ditingkatkan menjadi 5 kilogram semi otomatis pada tahun berikutnya.
Langkah ekspansi bisnis berlangsung cepat. Pada 2018, PW Kopi telah mengoperasikan delapan gerai kedai kopi di Palembang. Selain memperluas distribusi ritel, perusahaan juga mulai memasok roast bean dan bubuk kopi ke sejumlah kedai kopi lain di wilayah Sumsel.
“Di awal kami membuka usaha ini, sambutan masyarakat sangat tinggi. Masyarakat Palembang sangat menyukai konsumsi kopi. Namun melalui kedai kami, kopi premium Sumsel lambat laun mulai dikenal banyak orang,” kata Bang Joe.
Dari sisi rantai pasok, perusahaan memperkuat sourcing bahan baku dari lima sentra kopi unggulan Sumsel, yakni Pagar Alam, Semendo, Lahat, Empat Lawang, dan OKU Selatan. Strategi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjaga konsistensi kualitas produk premium.
“Bahan baku kopi kami berasal dari lima kabupaten penghasil kopi terbaik di Sumsel yaitu Pagar Alam, Semendo, Lahat, Empat Lawang dan Oku Selatan,” jelasnya.
Setiap green bean yang diterima dari petani kembali melalui proses sortir ketat, termasuk pengujian kadar air dan pemisahan biji cacat, sebelum masuk ke proses roasting dan pengemasan. Seluruh proses produksi disebut telah mengacu pada sistem manajemen mutu, HACCP, sertifikasi halal, dan spesifikasi mutu nasional.
Momentum penting bagi perusahaan datang pada 2023, saat PW Kopi resmi meraih SNI 8964:2021 untuk kopi sangrai dan kopi bubuk. Standar ini menjadi nilai tambah strategis dalam memperkuat positioning produk di pasar premium.
“Menyandang label SNI dan konsisten menjaga kualitas, berat ya. Kita pas waktu pemeriksaan SNI aja ketat banget mulai dari alur sampai kualitas biji kopi,” ujar Angela Anggraeni.
Menurutnya, sertifikasi tersebut tidak hanya meningkatkan standar internal perusahaan, tetapi juga memberikan leverage bisnis saat mengikuti pameran dan memperluas jaringan pemasaran.
Meski sempat terdampak pandemi Covid-19 yang memaksa penutupan delapan gerai pada 2020, perusahaan berhasil melakukan restrukturisasi bisnis dan bangkit dengan fokus baru pada lini roastery coffee dan produk kemasan premium.
Saat ini PW Kopi kembali mengembangkan kapasitas bisnis dengan rencana relokasi fasilitas produksi ke lokasi yang lebih besar di Sekip, Palembang. Ekspansi ini diarahkan untuk memperbesar kapasitas roasting, memperluas ruang produksi, sekaligus mendukung pengembangan mini coffee shop.
Selain pasar domestik, perusahaan juga mulai memperluas eksposur ke pasar internasional. Produk PW Kopi tercatat telah tampil dalam sejumlah pameran di luar negeri, seperti Oslo, Korea, Belanda, dan Barcelona, serta telah dikirim ke Australia, Malaysia, Singapura, Abu Dhabi, dan Amerika Serikat.
“Kita juga bahkan menjadi supplier beberapa coffee shop, mengirim ke mereka seminggu kurang lebih 10 kilogram,” kata Bang Joe.
Untuk memperkuat storytelling produk dan diferensiasi pasar, perusahaan juga mulai mengintegrasikan teknologi barcode pada kemasan yang terhubung langsung dengan informasi asal-usul kopi, termasuk daerah perkebunan dan cerita petani.
“Barcode terintegrasi dengan web kita. Jadi ketika kita scan, misalnya beli kopi Lahat, maka begitu di-scan akan langsung terhubung dengan web kopi Lahat,” ujar Angela.
Dengan kombinasi sertifikasi mutu, inovasi produk, dan strategi ekspansi pasar, PW Kopi menargetkan kopi premium Sumsel dapat semakin kompetitif di pasar nasional maupun internasional, sekaligus memperkuat nilai ekonomi komoditas kopi daerah.




