MONETER – Pinhome berkolaborasi dengan Nafas Indonesia menggelar acara peluncuran
market report sekaligus webinar Property Academy bertajuk, “Beda lokasi hunian, beda kualitas udaranya. Kok
bisa?”, Rabu (14/09/2022).
Acara
tersebut digelar untuk memahami
dampak kualitas udara terhadap kehidupan sehari-hari menjadi hal yang sangat
penting. Terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan, di mana
setiap harinya masyarakat terpapar oleh polusi udara tanpa mereka sadari.
Ketidaksadaran
tersebut salah satunya disebabkan oleh minimnya data yang dapat memberikan
informasi terkait memberikan informasi yang dapat diakses secara update
mengenai kualitas udara yang dihirup sehari-hari.
“Melalui
Nafas Insights, sekarang Anda bisa melihat rangkuman informasi kualitas udara
di daerah tempat tinggal Anda setiap minggu. Terdapat insight mingguan
di mana pengguna akan mendapatkan rangkuman tingkat polusi PM2.5 selama
seminggu terakhir,” kata CGO-CoFounder Nafas Indonesia Piotr Jakubowski.
Selain
itu, Katanya, anda juga bisa
melihat perbandingan antara kualitas udara di daerah Anda dengan rekomendasi
paparan tahunan PM2.5 oleh WHO. “Juga ada perbandingan kualitas udara minggu ini
dengan minggu lalu,” tambahnya.
Nafas dan
Pinhome bekerjasama
dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk penghidupan yang lebih baik
dengan memperhatikan kualitas udara di sekitar tempat tinggal. Hal ini juga
dilakukan guna memberikan edukasi mengenai polusi udara, khususnya polusi PM2.5.
PM2.5
sendiri merupakan ancaman bagi kesehatan manusia. PM2.5 adalah gabungan
partikel padat yang berada di udara yang berukuran 2.5 mikron yang Dihasilkan
oleh asap kendaraan bermotor, asap pabrik, rokok, dan pembakaran sampah. Selain
itu, PM2.5 berukuran 1/100 ukuran helai rambut dan tidak bisa disaring oleh
tubuh manusia.
Polusi
PM2.5 berbahaya bagi tubuh manusia karena badan manusia tidak mampu memfilter
polutan ini di mana dapat terperangkap di paru-paru. Bahkan, PM2.5 dapat masuk
ke pembuluh darah dan tersalurkan ke seluruh tubuh.
Menurut
data dari KLHK 2013, Dr. Budi Haryanto dari Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, sebesar 60 persen pasien rumah sakit di Jakarta
menderita penyakit yang terkait dengan polusi udara.
Polusi
PM2.5 dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan seperti kelahiran prematur,
berat badan lahir rendah, perkembangan janin, asma, perkembangan paru-paru
lambat, masalah perkembangan, batuk dan sesak napas, penyakit jantung koroner,
stroke, kanker paru-paru, bronkitis kronis, diabetes, dementia, serangan
jantung, gagal jantung, paru-paru lemah.
Sementara
data WHO menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang
penuh dengan polutan. Polusi udara terbukti dapat menghambat pertumbuhan otak
dan menurunkan tingkat IQ anak.
Menurut Databoks, Jabodetabek masuk dalam urutan kedua sebagai wilayah urban
dengan populasi terbesar yang mencapai 34,5 juta jiwa. Populasi yang tinggi ini
lantaran area Jabodetabek menawarkan banyak fasilitas lengkap dan kesempatan
karier yang terbuka luas, sehingga menjadi magnet bagi para pendatang.
Di saat
yang bersamaan, kualitas udara di Jakarta akhir-akhir ini cukup rendah. Air
Pollution Index milik WHO menyatakan polusi PM2.5 di Jakarta mencapai 39 µg/m³.
Nilai ini sangat tinggi dibandingkan standar yang digunakan oleh WHO tahun 2021
senilai 5 µg/m³.
Dilihat
dari perspektif sosiologi, pertambahan populasi berdampak pada meningkatnya
polusi udara di sebuah daerah. Di saat yang bersamaan jika dilihat dari
perspektif kesehatan masyarakat, terdapat banyak faktor yang meningkatkan
jumlah polusi udara.
Air Pollution Yearly Exposure Guidelines
according to WHO
Lima Area
Jabodetabek dan Kualitas Udaranya
Tidak
dapat dipungkiri bahwa level kualitas udara di Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi cukup bervariasi akhir-akhir ini. Ada kalanya indikator
polusi udara di wilayah tersebut cukup tinggi. Walau begitu, kualitas udara di
waktu tertentu terkadang bisa lebih bagus. Bahkan, ada potensi kondisi udara
bisa membaik meski di saat terburuk.
Menurut
data riset hasil kolaborasi Pinhome dengan Nafas, terdapat sedikitnya lima
wilayah di Jabodetabek yang menjadi referensi untuk mengukur tren kualitas udara.
Kelima wilayah tersebut antara lain Depok Beji, Pondok Indah, Bogor Barat,
Bekasi – Tambun Selatan, dan Dharmawangsa. Hasil ini diukur berdasarkan
kualitas udara pada aplikasi Nafas.
Masyarakat bisa mengantisipasi udara tidak sehat
dan meningkatkan kualitas udara di sekitar rumah melalui beberapa cara berikut:
· Menutup jendela atau ventilasi natural ketika
kondisi udara memburuk
· Tetap berolahraga di dalam ruangan dan mengatur
waktu olahraga di luar ruangan
· Memakai masker saat berada di luar rumah
· Menggunakan air purifier untuk membersihkan
udara di ruangan
· Membatasi benda beraroma, seperti lilin
aromaterapi dan penyegar udara
Head of Agent Account Management Pinhome Panca Satria mengatakan untuk memilih hunian
dengan kualitas yang baik, hal
pertama yang dapat dilakukan yaitu mengecek
rencana pembangunanya terlebih dulu.
“Kita
dapat mempertimbangkan kualitas udara sebagai faktor penting dalam mencari
hunian. Pertama, kita bisa melihat rencana pembangunan. Rata-rata project
properti primary adalah project inden yang biasanya (membutuhkan waktu) 12 atau
24 bulan, nah sambil kita lihat apakah di dalam proses pembangunan properti
tersebut memperhatikan kualitas udaranya dan tidak dekat dengan kawasan
industri. Hal-hal semacam ini bisa kita perhatikan,” terang Panca.
“Lalu jarak lokasi. (Apakah) bangunan-bangunan
(perumahan) itu bisa mendatangkan kerumunan dan menyebabkan kemacetan. Tapi hal
ini (sebenarnya) diperlukan juga, karena di suatu hunian kita tidak mau dong
hunian kita ada di kawasan yang sepi? Karena kepadatan penduduk belum tentu
menjadi faktor polusi udara yang tidak baik,” tutup Panca.




