Moneter.id – PT Inalum (Persero) mengatakan tidak ada aset atau saham Inalum dan anak
usaha, yang digadaikan ketika perusahaan menerbitkan obligasi global dalam
membeli divestasi PT Freeport.
“Jangan termakan hoax. Tidak ada aset
atau saham yang kita gadaikan dalam penerbitan tersebut. Mengapa bisa tanpa
jaminan? Karena investor global percaya akan kinerja Inalum dan prospek bisnis
PTFI,” kata Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Inalum Rendi
Witular di Jakarta, Minggu (23/12).
Obligasi global tersebut senilai 4 miliar dolar AS di mana 3, 85 miliar dolar
atau Rp55 triliun digunakan untuk pembayaran saham PTFI dan sisa 150 juta dolar
untuk refinancing.
Holding Industri Pertambangan ini meluruskan asumsi-asumsi yang tidak berdasar
terkait pembiayaan untuk meningkatkan kepemilikan perusahaan di PT Freeport
Indonesia (PTFI) dari 9, 36% menjadi 51,2%.
Obligasi global Inalum terdiri dari dari empat seri dengan dengan masa
tersingkat 3 tahun dan paling lama 30 tahun denggan tingkat kupon rata-rata
sebesar 5, 991%.
BNP Paribas dari Perancis, Citigroup dari Amerika Serikat dan MUFG dari Jepang
menjadi koordinator underwriter dalam penerbitan obligasi ini serta CIMB dan
Maybank dari Malaysia, SMBC Nikko dari Jepang dan Standard Chartered Bank dari
Inggris sebagai mitra underwriter.
Untuk penerbitan global bond ini, Inalum mendapatkan rating Baa2 dari Moody’s
dan BBB- dari Fitch. Bond ini telah terdaftar di Singapore Exchange
Securities.
Penerbitan obligasi ini lebih kompetitif dan stabil dibanding dengan pinjaman
dari sindikasi perbankan asing. Jika lewat perbankan akan ada resiko suku bunga
yang dapat melonjak di saat ketidakpastian ekonomi global, dan juga untuk
jangka panjang biasanya bank meminta jaminan.
“Mengapa tidak mengambil pembiayaan dari dalam negeri, karena kita tidak ingin
ada uang yang keluar dari Indonesia dan mengakibatkan terjadinya fluktuasi
nilai tukar rupiah. Ini kan uangnya dari Jepang, Singapore, Amerika dan Eropa
yang ditransfer ke negara lain,” terang Rendi.
Rendi menjelaskan bahwa Inalum mempunyai kemampuan yang kuat untuk
membayar. “Kita keluar Rp 55 triliun untuk membeli tambang PTFI dengan
kekayaan senilai Rp2,400 triliun hingga 2041. Setelah 2022, laba bersih PTFI
diproyeksikan sebesar Rp 29 triliun per tahun berdasarkan asumsi yang sangat
konservatif,” pungkasnya.




