Moneter.id – BNI Syariah
berencana melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada 2019. Rencana tersebut
mempertimbangkan pertumbuhan anorganik perusahaan.
Direktur Utama BNI Syariah,
Abdullah Firman Wibowo, mengatakan, BNI Syariah menyadari pentingnya
mendapatkan akses ke pasar modal untuk pendanaan di masa depan.
“Akses ke
pasar modal tersebut selain dapat meningkatkan posisi kompetitif, juga
meningkatkan tingkat transparansi dan akuntabilitas perusahaan,” ucapnya,
Minggu (3/06).
Secara
internal, lanjut Firman, moral dan engagement karyawan akan meningkat diiringi dengan
rasa kebanggaan bekerja di perusahaan yang telah go public.
“Untuk
ini, BNI Syariah secara internal telah menyiapkan diri dengan dukungan dari
pemegang saham untuk mengkaji kemungkinan IPO serta waktu pelaksanaan yang
tepat,” kata Firman.
Firman menyatakan akan
segera mengumumkan lebih lanjut mengenai rencana IPO tersebut setelah Direksi
BNI Syariah berkoordinasi dengan pemegang saham dan pemangku kepentingan yang
terlibat.
Sementara, Direktur Bisnis
BNI Syariah, Dhias Widhiyati, mengatakan, pertumbuhan anorganik telah menjadi
pertimbangan BNI Syariah dalam melaksanakan rencana IPO tersebut.
“Ada
beberapa alternatif untuk tumbuh secara anorganik antara lain melalui IPO. Harapan
pertumbuhan tersebut dapat direalisasikan tahun depan,” jelas Dhias.
Pengamat Ekonomi Syariah
dari Karim Consulting, Adiwarman Karim menyatakan tahun 2019 menjadi waktu yang
tepat BNI Syariah bagi BNI Syariah untuk melakukan IPO. Sebab, diharapkan tahun
depan kondisi pasar modal di Indonesia telah membaik dibandingkan tahun
ini.
Pada kuartal I/2018, BNI
Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp 94,48 miliar. Nilai ini naik 21,69%
(yoy) dari Maret 2017 yang sebesar Rp 77,64 miliar.
Sementara untuk aset BNI
Syariah sampai Maret 2018 tercatat sebesar Rp 38,54 triliun atau naik 29,07%
(yoy) dari Maret 2017. Pertumbuhan aset tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan
industri Bank Umum Syariah (BUS) per Februari 2018 sebesar 7,32%.
(HAP)




