Sabtu, Maret 7, 2026

Tahun Ini, BTN Cari Dana Lewat ‘Wholesale Funding’ Sebesar Rp18 triliun

Must Read

Moneter.co.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menyatakan akan
mencari pendanaan melalui
wholesale
funding
hingga sebesar Rp18 triliun pada tahun 2018. Hal ini untuk
mendukung target pertumbuhan kredit 2018 yang dipatok pada kisaran 22%-24%.

Direktur
Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan bahwa tahun ini memang mengincar
penghimpunan dana diluar pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) hingga sebanyak
Rp18 triliun.

“Target
dana wholesale kita tahun ini sebesar
Rp18 triliun,” ujarnya di Jakarta, Selasa (13/2).

Iman
menjelaskan, instrumen yang akan dimanfaatkan oleh BTN terdiri dari
securitisasi, pinjaman bilateral baik dalam maupun luar negeri, penerbitan
subdebt dan juga penerbitan negotiable
certificate of deposit
(NCD).

“Sekuritisasi
aset Rp2 triliun. Saat ini dalam proses dan diharapkan akhir Februari sudah
bisa dilaksanakan, sehingga dananya sudah bisa masuk pada Maret 2018,”
ujarnya.

Selain
itu, kata Iman, BTN berniat untuk melakukan pinjaman bilateral, baik dari dalam
maupun luar negeri pada kisaran Rp5-7 triliun. Kemudian, pihaknya juga
berencana menerbitkan subdebt berupa convertible
loans
sebesar Rp2 triliun untuk menjaga CAR pada level 18%.

Selain
itu, bank BUMN yang fokus dalam pembiayaan perumahan tersebut juga membuka opsi
menerbitkan negotiable certificate of
deposit
(NCD) sebesar Rp9 triliun.

Iman
menerangkan bahwa kendati telah merencanakan pencarian dana sebanyak Rp18
triliun, namun jumlah tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebutuhan
perseroan.

“Untuk
pinjaman bilateral fleksibel, bisa Rp5 triliun sampai Rp7 triliun, begitu juga
NCD bisa sekitar Rp7 triliun sampai Rp9 triliun,” ujarnya.

Meski
demikian, selain menghitung kebutuhan dana, BTN dalam mencari pendanaan di luar
DPK tersebut juga mempertimbangkan sisi efisiensi dari masing-masing instrumen
yang bakal di ambil.

Menurut
Iman, dari semua opsi instrumen pendanaan itu, yang paling murah yakni pinjaman
bilateral kepada sesama bank.

Pasalnya,
jika pinjam dari sesama bank, BTN tidak perlu membayar fee Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) dan menaruh 6,5% di Bank Indonesia sebagai giro wajib minimum
(GWM). “Kami tetap melihat yang paling efisien,” tambahnya.

Sementara,
Direktur Utama Bank BTN Maryono menambahkan bahwa pada tahun ini perseroan
membidik pertumbuhan DPK sekitar 19%-22%.

“Pada
31 Desember 2017, Bank BTN telah menghimpun DPK senilai Rp192,95 triliun.
Perolehan tersebut naik 20,45% yoy dari Rp160,19 triliun pada 31 Desember 2016,”
ujar Maryono

Pertumbuhan
simpanan masyarakat tersebut pun lebih tinggi di atas rata-rata perbankan
nasional yang hanya naik sebesar 8,3% yoy (data BI).

“Kenaikan
DPK Bank BTN tersebut ditopang pertumbuhan positif giro, tabungan, dan deposito
yang masing-masing tumbuh sebesar 19,21% yoy, 17,57% yoy, dan 22,42% yoy,”
ucapnya.

Dari
kinerja fungsi intermediasi Bank BTN tersebut menyumbang pertumbuhan penyaluran
bunga bersih perseroan sebesar 14,45% yoy dari Rp8,25 triliun menjadi Rp9,44
triliun pada kuartal IV/2017.

Sementara pendapatan bunga bersih turut mengerek naik
laba bersih Bank BTN sebesar 15,59% yoy menjadi Rp3,02 triliun.

 

(HAP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pertamina Patra Niaga Siagakan 345 Armada Kapal, Jaga Pasokan Energi Aman Selama Ramadan Idulfitri 2026

PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Downstream Pertamina memastikan kesiapan penuh dalam menjaga kelancaran distribusi energi nasional selama periode Satgas...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img