Moneter
–
PT Pertamina (Persero) menargetkan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)
di 5.000 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berpotensi menghemat
Rp4 miliar setahun dari biaya tagihan listrik.
“Pemasangan PLTS di 5.000 SPBU diperkirakan
berpotensi menurunkan emisi sebesar 34 ribu ton karbon dioksida per
tahun,” kata Chief Executive Officer Pertamina New Renewable Energy Dannif
Danusaputro di Jakarta, Selasa (14/9).
Transisi energi yang sedang dilakukan perseroan
mengusung konsep Green Energy Station atau Stasiun Energi hijau yang
menyediakan layanan secara terintegrasi dan ramah lingkungan.
Pembangkit listrik surya yang dipasang menggunakan
sistem on grid yang terintegrasi
dengan jaringan penyediaan listrik sebagai tempat penyimpanan energi yang
dihasilkan dari panas matahari.
Berdasarkan riset BloombergNEF rentang waktu
2010-2020, biaya investasi PLTS turun drastis hingga 90 persen.
Penurunan biaya pembangkit itu seiring makin
berkembangnya teknologi serta meningkatnya skala ekonomi, sehingga biaya
pemasangan PLTS akan menjadi kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik
berbasis bahan bakar fosil.
“HSSE Golden Rules sudah menjadi budaya di Pertamina
di mana aspek keamanan dan keselamatan tidak akan lepas dari setiap aktivitas
operasi kami, sehingga konsumen tidak perlu khawatir,” ujar Dannif.
Hal menarik lainnya dari PLTS atap adalah tampilan
panel surya yang futuristik dapat memberikan fungsi dekoratif pada atap SPBU.
Di beberapa negara dengan pemanfaatan PLTS yang sudah
lebih maju, produk panel surya yang dihasilkan produsen tidak hanya memberikan
manfaat fungsional tapi juga lebih bervariasi dengan beberapa pilihan warna
yang menambah manfaat dekoratif atap bangunan. (Ant)




