Kamis, Januari 15, 2026

Tiga Negara Ini Penyumbang Terbesar Surplus Indonesia di Oktober 2022

Must Read

MONETER – Tiga negara mitra dagang menjadi penyumbang
terbesar surplus perdagangan Oktober 2022, yaitu India, Republik Rakyat
Tiongkok (RRT), dan Amerika Serikat (AS). Negara mitra dagang ini membuat
Indonesia masih mencatatkan kinerja ekspor positif serta menorehkan surplus
neraca perdagangan di tengah perlambatan ekonomi global dan ancaman resesi
global.


Hal ini terlihat dari neraca
perdagangan Oktober 2022 yang surplus USD 5,67 miliar. Surplus Oktober 2022 pun
menjadi capaian surplus bulanan berturut-turut ke-30 sejak Mei 2020.


“Surplus perdagangan Oktober
2022 disumbang surplus perdagangan nonmigas USD 7,66 miliar dan defisit
perdagangan migas USD 1,99 miliar. Surplus ini menjadi capaian surplus bulanan
ke-30 secara berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli
Hasan, Kamis (17/11/2022).


Katanya, kinerja positif
pada Oktober 2022 tersebut didorong oleh surplus dengan beberapa negara mitra
dagang. India menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai surplus USD 1,61
miliar, diikuti RRT dengan surplus sebesar USD 1,20 miliar, dan AS dengan nilai
surplus USD 1,15 miliar.


Sementara itu, jika melihat
secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Oktober 2022 pun mencatatkan
surplus USD 45,52 miliar. Surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 ini ditopang
surplus nonmigas sebesar USD 66,41 miliar serta defisit migas sebesar USD 20,89
miliar. Mendag Zulkifli Hasan menyebut, surplus perdagangan Januari–Oktober
2022 telah melampaui kinerja perdagangan dua tahun belakangan.


“Surplus perdagangan
Januari–Oktober 2022 telah melampaui capaian sepanjang tahun 2021 yang sebesar
USD 35,42 miliar dan dua kali lipat capaian sepanjang tahun 2020 yang sebesar
USD 21,62 miliar. Kondisi ini merupakan hal yang menggembirakan bagi Indonesia
di tengah perlambatan ekonomi dan ancaman resesi ekonomi global. Kita harap
surplus perdagangan Indonesia tahun ini dapat berkontribusi positif dalam
menjaga ketahanan eksternal bidang ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia,” kata Mendag Zulkifli Hasan.


Diketahui, nilai total
ekspor Indonesia pada Oktober 2022 mencapai USD 24,81 miliar. Nilai tersebut
meningkat 0,13 persen dibanding September 2022 (MoM) dan tumbuh 12,30 persen
dibanding Oktober 2021 (YoY). Ekspor Oktober 222 didorong peningkatan ekspor
migas sebesar 4,93 persen MoM, sementara ekspor nonmigas turun 0,14 persen MoM.


“Ekspor Indonesia pada
Oktober 2022 masih meningkat bahkan saat kinerja ekspor beberapa negara mitra
turun,” ujar Mendag Zulkifli Hasan.


Berdasarkan Trading
Economics, beberapa negara mitra dagang Indonesia yang kinerja ekspornya
melemah pada Oktober 2022 antara lain RRT (turun 7,56 persen MoM), Brasil
(turun 5,70 persen MoM), Korea Selatan (turun 8,64 persen MoM), Pakistan (turun
7,12 persen MoM), dan Turki (turun 5,84 persen MoM).


Beberapa produk utama ekspor
nonmigas Indonesia dengan kenaikan tertinggi pada Oktober 2022 dibanding
September 2022 (MoM) adalah bahan kimia anorganik (HS 28) yang naik 35,72
persen, lemak dan minyak nabati (HS 15) naik 14,38 persen, besi dan baja (HS
72) naik 7,79 persen, bahan bakar mineral (HS 27) naik 5,59 persen, serta ikan
dan udang (HS 03) naik 4,93 persen. Peningkatan ekspor produk-produk tersebut
terutama disebabkan oleh kenaikan permintaan di pasar tujuan ekspor Indonesia.


Di sisi lain, beberapa
produk utama ekspor nonmigas yang berkontraksi pada Oktober 2022 dibanding
September 2022 (MoM) antara lain bijih, terak, dan abu logam (HS 26) yang turun
38,57 persen; pulp dari kayu (HS 47) turun 20,58 persen; serat stapel buatan
(HS 55) turun 14,64 persen; kayu dan barang dari kayu (HS 44) turun 14,53
persen; serta timah dan barang daripadanya (HS 80) turun 10,39 persen.


Penurunan ekspor nonmigas
Indonesia diakibatkan melandainya harga beberapa komoditas unggulan Indonesia
seperti bijih besi, tembaga, dan timah. Penurunan ekspor nonmigas juga
diakibatkan adanya penurunan permintaan beberapa produk manufaktur asal
Indonesia seperti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), kendaraan dan
bagiannya (HS 87), berbagai produk kimia (HS 38), alas kaki (HS 64), serta
mesin dan peralatan mekanis (HS 84).


Mendag Zulkifli Hasan
menyampaikan, RRT, India, dan AS menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia
pada Oktober 2022 dengan total nilai ekspor ketiganya mencapai USD 10,44 miliar
dan kontribusi sebesar 44,52 persen terhadap ekspor nonmigas nasional. Beberapa
pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia yang tumbuh tertinggi pada Oktober
2022 (MoM) adalah Pakistan dengan kenaikan 83,66 persen, Myanmar (67,69
persen), Spanyol (43,68 persen), Turki (42,52 persen), dan Mesir (40,55
persen).


“Ditinjau dari kawasan,
pertumbuhan ekspor nonmigas terbesar terjadi ke kawasan Afrika Timur yang
tumbuh 39,45 persen, Afrika Selatan 37,68 persen, dan Afrika Utara 36,76 persen
MoM. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Benua Afrika masih
potensial untuk dijadikan negara tujuan diversifikasi ekspor nonmigas Indonesia
ke depannya,” kata Mendag.


Secara kumulatif, total
ekspor selama periode Januari–Oktober 2022 tercatat mencapai USD 244,14 miliar
atau meningkat 30,97 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).
Peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh penguatan ekspor sektor nonmigas yang
naik 30,61 persen (YoY) menjadi USD 230,62 miliar dan ekspor sektor migas yang
naik 37,40 persen (YoY) menjadi sebesar 13,52 miliar.


Sementara, total impor
Indonesia bulan Oktober 2022 mencapai USD 19,14 miliar. Nilai ini relatif
melemah 3,40 persen dibanding Agustus 2022 (MoM), namun meningkat 17,44 persen
bila dibandingkan Oktober 2021 (YoY). “Penurunan kinerja impor pada Oktober
2022 dipicu menurunnya impor nonmigas sebesar 3,73 persen (MoM) dan menurunnya
impor migas sebesar 1,81 persen (MoM),” jelas Mendag.


Mendag Zulkifli Hasan
mengungkapkan, jika berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan
baku/penolong dan barang modal melandai masing-masing sebesar 3,99 persen dan
7,22 persen MoM. Penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal di
Oktober ini juga tecermin dari penurunan Standard and Poor’s (S&P) Global
Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor industri manufaktur di Indonesia pada
Oktober 2022 di level 51,8 atau turun dari September 2022 di level 53,7.


Di sisi lain, impor barang
konsumsi justru meningkat 10,13 persen (MoM) pada Oktober 2022. Kenaikan impor
barang konsumsi ini menandai pulihnya ekonomi dalam negeri dan membaiknya
permintaan domestik sebagaimana tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Oktober 2022 sebesar 120,3 yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya
sebesar 117,2.


“Penurunan impor bahan baku
dan barang modal pada dua bulan terakhir ini perlu diwaspadai, mengingat impor
bahan baku/penolong dan barang modal mempengaruhi aktivitas industri, gerak
ekonomi, dan investasi di masa depan,” ujar Mendag.


Beberapa bahan baku/penolong
yang impornya turun adalah bahan bakar mineral, logam mulia dan
perhiasan/permata, gula dan kembang gula, serta ampas/sisa industri makanan.
Sedangkan beberapa komoditas barang modal yang berkontraksi terdalam adalah
laptop, alat berat, barangbarang lain pada kelompok mesin dan peralatan mekanis
(HS 84), serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85).


Di sisi lain, barang
konsumsi yang impornya meningkat signifikan antara lain vaksin, bawang putih,
bahan bakar kendaraan bermesin diesel, minyak medium lainnya dan olahannya,
tali pengaman bukan untuk keperluan industri, serta buah-buahan seperti anggur,
kelengkeng, dan apel.


Berdasarkan negara asal,
impor nonmigas Indonesia didominasi komoditas dari RRT, Jepang, dan Korea
Selatan dengan total pangsa 48,03 persen dari total impor nonmigas Oktober
2022. Negara asal impor dengan penurunan impor nonmigas terdalam pada Oktober
2022 adalah Argentina yang turun 37,02 persen, Arab Saudi (turun 33,78 persen),
Hongkong (turun 25,75 persen), India (turun 21,02 persen), dan Singapura (turun
17,01 persen MoM).


“Secara kumulatif, total
impor periode Januari– Oktober 2022 mencapai USD 198,62 miliar atau naik 27,72
persen dari Januari–Oktober 2021 (YoY). Pertumbuhan impor tersebut dipicu
lonjakan impor migas sebesar 79,92 persen dan kenaikan impor nonmigas sebesar
20,40 persen YoY,” tutup Mendag Zulkifli Hasan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

REDMI Note Series Tembus 460 Juta Unit Pengiriman Global

REDMI Note Series menjadi kontributor besar dengan total pengiriman lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img