Moneter.id – PT Barito
Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan penurunan laba bersih signifikan menjadi sebesar
US$ 19,12 juta (Rp 274,12 miliar) pada paruh pertama 2018. Laba ini turun
60,93% dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$
48,96 juta atau Rp 701,63 miliar.
Berdasarkan informasi
perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (02/07) dijelaskan, untuk
pendapatan bersih perseroan naik 9,76% menjadi US$ 697,54 juta atau Rp 9,9 triliun
dibandingkan dengan kuartal I/2017 sebesar US$ 635,53 juta.
Kenaikan
pendapatan tertinggi berasal dari pendapatan bersih lokal petrokimia yang naik
21,81% menjadi US$ 514,86 juta. Sedangkan untuk pendapatan bersih ekspor petrokimia
perseroan pada kuartal I/2018 turun 14,54% menjadi US$ 176,43 juta.
Perseroan
juga membukukan beban pokok pendapatan dan beban langsung pada kuartal I/2018
naik 21,30% menjadi US$ 559,06 juta dibandingkan dengan periode yang sama tahun
lalu sebesar US$ 460,88 juta.
Beban pokok
tertinggi berasal dari beban penjualan petrokimia yang naik 21,56% menjadi US$
556,56 juta. Ekuitas perseroan pada kuartal I/2018 naik 2,52% menjadi US$ 2,06
miliar dibandingkan akhir Desember 2017 sebesar US$ 2,01 miliar. Sedangkan
liabilitas perseroan pada periode tersebut turun 6,57% menjadi US$ 1,51 miliar.
Sedangkan aset perseroan di
sepanjang kuartal I/2018 turun 1,54% menjadi US$ 3,58 miliar dibandingkan
dengan aset BRPT pada kuartal IV/2017 sebesar US$ 3,64 miliar.
Sekedar
informasi, PT Barito Pacific Tbk belum lama ini merampungkan akuisisi Star
Energy sebagai produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia. Melalui aksi
korporasi tersebut diharapkan bisa memberkan stabilitas penerimaan BRPT.
BRPT berhasil mengakuisisi
66,67% saham Star Energy Group Holding Pte Ltd (Star Energy) pada 7 Juni 2018.
Dana akuisisinya pun berasal dari penawaran umum terbatas II (PUT II) atau
right issue senilai Rp 7,4 triliun.
“Ada tiga
target yang akan diincar Perseroan. Pertama, akuisisi untuk menambah sumber
penghasilan BRPT,” kata Presiden Direktur Barito Pacifik, Agus Salim Pangestu.
Kedua, lanjut Agus, mampu
menstabilisasikan aliran pendapatan bagi Perseroan dan ketiga, agar BRPT
menjadi power operating company atau
perusahaan operasional listrik. Apalagi, Star Energy merupakan produsen listrik
panas bumi terbesar di Indonesia.
“Namun
gambarannya, dari segi EBITDA, Star Energy mewakili kira-kira 40% sampai 50%
dari total BRPT,” ungkapnya.
(TOP)




