Moneter.id – Presiden
Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Nico Kanter, pada semester I/2018
perusahaan mengantongi pendapatan hingga US$374,61 juta, naik 28,34% yoy
dibandingkan tahun 2017 sebesar US$291,88 juta .
“Peningkatan
pemasukan itu ditopang oleh perbaikan volume penjualan pada kuartal II/2018 dan
penguatan harga nikel matte,” ucapnya, Kamis (26/7).
Pada
kuartal II/2018, lanjut Nico, penjualan nikel matte INCO ini mencapai 18.764
ton, tumbuh dari triwulan sebelumnya 17.240 ton. Total pemasaran pada semester
I/2018 turun 3,07% yoy menjadi 36.003 ton dari sebelumnya 37.144 ton.
Rata-rata
harga jual meningkat menuju US$9.887 per ton pada kuartal I/2018 dan US$10.880
per ton pada kuartal II/2018.
Adapun,
pada semester I/2017, rata-rata harga jual hanya mencapai US$7.585 per
ton.”Produksi dan penjualan pada kuartal II/2018 meningkat, harga juga lebih
baik. Namun, dengan kondisi pasar yang naik turun, kami akan tetap fokus dalam
mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya,”
ujar Nico.
Salah
satu upaya efisiensi ialah dengan mengurangi konsumsi high sulphur fuel oil
(HSFO) menjadi 743.247 barel pada semester I/2018 dibandingkan posisi 769.110
barel pada semester I/2017. Penurunan penyerapan HSFO itu terjadi seiring
dengan rampungnya coal conversion project
2 (CCP2) pada April 2018.
Dengan
demikian, perusahaan memiliki 2 tanur atau tempat pembakaran yang menggunakan
bahan bakar batu bara. INCO mengoperasikan lima tanur meliputi tiga di
antaranya masih memakai bahan bakar HSFO.
Pada
semester I/2018, beban pokok pendapatan perusahaan naik tipis 3,61% yoy menjadi
US$321,07 juta dari sebelumnya US$309,88 juta. Perseroan berhasil membukukan
laba bruto US$53,54 juta, berbalik dari posisi rugi bruto US$17,99 juta pada
semester I/2017.
Sementara
itu, EBITDA perseroan pada semester I/2018 melonjak 221,47% yoy menuju US$109,3
juta dari sebelumnya US$34 juta. “Pembukuan laba mencapai US$29,39 juta,
berbalik dari rugi US$21,48 juta pada periode Januari–Juni 2017,” bebernya.
(HAP)




