Moneter.co.id – Parlemen China mengumumkan
terpilihnya Yi Gang sebagai Gubernur Bank Sentral China atau People Bank of
China (PBOC) pada Senin (19/3). Yi menggantikan Zhou Xiaochuan yang memasuki
masa pensiun setelah memimpih lebih dari 15 tahun.
Yi sebelumnya menjabat sebagai deputi gubernur dalam sepuluh tahun terakhir. Ia
meraih gelar pendidikan ekonominya di Amerika Serikat, akan segera memulai lima
tahun masa jabatannya sebagai pemimpin PBOC.
Dilansir dari laman CNN.com,
Rob Carnel, ekonom di bank investasi ING menyebut penunjukkan Yi dilakukan
sebagai langkah menjaga keberlanjutan yang selama ini sudah ditempuh Bank
Sentral China pada masa kepemimpinan Zhou.
“Kepemimpinan Zhou selama
ini dinilai membuat ekonomi China tumbuh dengan sangat cepat dan baik, melalui
beberapa perubahan besar yang dilakukan negara tersebut untuk lebih terbuka
pada investasi asing,” ucap Rob.
Zhou dikenal sebagai
pendukung reformasi gaya barat untuk ekonomi China yang pernah tertutup. Pada
tahun lalu, dia sempat menyebut, kurangnya persaingan dari luar, bisa
menyebabkan ‘kemalasan’ di sektor keuangan.
Investor global berharap Yi akan melanjutkan kebijakan yang selama ini ditempuh
Zhou. Latar belakang pendidikan Yi yang merupakan jebolan Hamline University d
Minasota dan University of Illinois Urbana-Champaign, sebelum mengajar pada
Indiana University memperkuat harapan tersebut.
“Ini (terpilihnya Yi Gang) bisa menyuntikkan kepercayaan di pasar saham
China,” terang Jingyi Pan, seorang ahli strataegi pasar pada perusahaann
IG Group.
Pada perdagangan hari ini, Indeks saham Shanghai Composite China ditutup
menguat tipis 9,37 poin atau 0,29%.
Bank sentral China, seperti
halnya Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) maupun Bank
Indonesia, memaikan peran kunci dalam kelancaran perekonomian negara tersebut.
Tanggung jawabnya, meliputi penetapan tingkat suku bunga dan pengaturan sektor
keuangan China yang sangat besar.
Salah satu hal yang akan menjadi prioritas besar Yi adaah menjaga level utang
China tetap terkendali, di tengah pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang tak
sekencang tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan China tahun ini diperkirakan akan
berada di kisaran 6,5%, lebih rendah dibanding 2017 yang berada di angka
6,9%.
Total utang China meningkat sangat cepat sejak krisis finansial global. Hingga
pertengahan tahun lalu, jumlah utangnya sudah melebihi 2,5 kali total seluruh
nilai perekonomian China.
Perekonomian China juga tengah menghadapi ancaman keputusan Presiden AS Donald
Trump untuk memberlakukan tarif impor baja dan alumunium. Hasil penyeledikan
yang selama ini tertunda terkait kemungkinan China melakukan pencurian hak
kekayaan intelektual juga dikawatirkan memicu perang dagang antara dua negara
ekonomi terbesar dunia tersebut.
(HAP)




