Ketua Dewan Komisioner Lembaga penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa | Foto: Istimewa

Ketua LPS: Likuiditas perbankan cukup tapi masih diperlukan pertumbuhan kredit

17 Maret 2021

Moneter.id – Ketua Dewan Komisioner Lembaga penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, likuiditas perbankan saat ini menunjukkan kondisi yang relatif cukup. Hal ini tergambar dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bulan Januari 2021 sebesar 10,57%.

“Namun pertumbuhan kredit masih perlu didorong untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional dimana saat ini angka pertumbuhan kredit sebesar -1,92% yoy,” ujarnya  di Jakarta, Selasa (16/3).

LPS, menurutnya, ikut menjaga simpanan industri perbankan agar tumbuh stabil melalui cakupan program penjaminan yang kredibel dan terpercaya.

Baca juga: Simpanan masyarakat di bank turun 1,45persen, LPS: Wajar

“Suku bunga kredit perlu untuk terus didorong penurunannya dan karena setiap sektor ekonomi rill mengalami tantangan yang berbeda, sehingga perlu dorongan kebijakan yang berbeda pula. Kesinambungan kebijakan akan mempengaruhi perbaikan perekonomian, oleh karena itu kita harus menggunakan segala instrumen yang ada untuk mendukung pemulihan ekonomi,” tutupnya.

Baca juga: LPS Pastikan Likuiditas Perbankan Stabil dan Merata

Menurutnya, LPS dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang lain akan terus menjalin sinergi kebijakan dan berbagai langkah stimulus. Sinergi ini yang menjadi fokus KSSK sekarang.   

“Pemerintah dan KSSK telah dan akan terus berupaya secara maksimal untuk memitigasi dampak akibat Pandemi Covid-19 di semua sisi melalui berbagai kebijakan terpadu,” ujarnya.

Purbaya mengatakan LPS berkomitmen menjaga stabilnya industri perbankan dan perekonomian nasional dengan berbagai kebijakan yang dijalankan saat ini.

Ia optimistis ekonomi nasional akan pulih dan bahkan tumbuh lebih baik. “Saat ini kita memang belum pulih sepenuhnya, tetapi sudah ada tanda-tanda perbaikan. Dampak covid 19 terhadap ekonomi sempat berpengaruh besar, tetapi perlahan kita mulai bisa mengendalikan. Kebijakan yang kita laksanakan saat ini relatif baik untuk mencegah Indonesia untuk jatuh lebih dalam ke jurang resesi,” ujarnya.

Purbaya mengatakan respon pemerintah dalam menghadapi dampak Pandemi Covid-19 terhadap perekonomian sudah tepat.

“Apabila dibandingkan dengan berbagai negara lain, pertumbuhan ekonomi kita lumayan baik, terlihat dari data, pertumbuhan ekonomi kita -2,07% yoy full year, sementara Singapura -5,75% yoy full year, Amerika Serikat -3,5% yoy full year dan Jerman -5,0 yoy full year. Dengan adanya program vaksinasi dan pembatasan sosial, pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada triwulan IV/2020 mulai menunjukkan perbaikan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional,” katanya.

Baca juga: LPS: Vaksinasi covid-19 jadi 'obat' perbaikan kredit perbankan

Purbaya mengatakan ada beberapa indikator kegiatan usaha dan konsumsi yang menunjukkan perbaikan. Namun, lanjutnya hal tersebut masih memerlukan dorongan untuk pulih lebih cepat.

Berdasarkan indikator dari Bank Indonesia (BI), Bloomberg dan juga CEIC mencatat antara lain Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang sebelumnya menunjukkan grafik penurunan, terutama di bulan April 2020, dimana hanya tumbuh sekitar 30%, sekarang grafiknya terus mengalami peningkatan, dan pada bulan Februari tahun ini angka pertumbuhannya sebesar 50,9%.

Sedangkan penjualan kendaraan bermotor, setelah mengalami penurunan signifikan di pertengahan tahun 2020 atau pada bulan Juni 2020, angka penjualan mobil merosot hingga -80% atau hanya terjual sekitar 200.000 unit, namun hingga awal tahun ini atau pada bulan Januari 2021 grafiknya meningkat dan naik hingga -34,22% atau terjual sebanyak 394.733 unit.

Kemudian, ia juga menjelaskan mengenai outlook pertumbuhan ekonomi global, dimana menurutnya perekonomian global akan sangat bergantung terhadap keberhasilan negara dalam mengatasi pandemi, termasuk di dalamnya ialah penyaluran vaksin kepada masyarakat.

“Data pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan perhitungan World Bank pada bulan Januari 2021 tumbuh sebesar 4,4% dan IMF mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8%, namun hingga bulan Maret 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut OECD naik sebesar 4,9%,” katanya.


TERKINI