Minggu, Mei 3, 2026

Sejarah dan Makna Kue Keranjang Imlek

Must Read

Moneter.co.id – Perayaan Imlek tak lepas dari yang
namanya kue keranjang. Namun, dibalik itu semua kue keranjang dibuat bukan
tanpa makna, teksturnya yang lengket, bentuknya yang bulat, dan penyajiannya
yang tak boleh 4 memiliki filosofi hidup yang masih dianut hingga sekarang.

Menyantap dan membagikan kue keranjang
saat Imlek tiba sudah menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan oleh
leluhur orang-orang Tionghoa.

Belum bisa dipastikan kapan tepatnya kue keranjang ini
hadir di tengah-tengah dunia perkulineran Indonesia. Namun, yang pasti, kue
cokelat manis ini dibawa oleh para orang-orang Tiongkok yang migrasi ke
Indonesia sejak 1-6 SM.

Pengamat
kota Semarang dan sudah mengenal sejarah perkembangan zaman dari masa ke masa,
Jongkie Tio menjelaskan kue keranjang disebut juga Nian Gao.

“Kemudian ada juga yang menyebutnya dodol China atau pun
kue manis. Disebut kue manis karena kue ini memang memiliki cita rasa yang
manis,” kata Jongkie.


Perpaduan
tepung ketan dan gula sebagai bahan dasar pembuatan kue berwarna cokelat.
Namun, seiring berkembangnya tren kuliner di Indonesia, kini banyak dijumpai
kue keranjang dengan berbagai pilihan warna dan rasa.

Cara
penyajian kue keranjang pun beragam. Ada yang memakannya secara langsung. Ada
juga yang mengirisnya tipis dan menggorengnya dengan dilumuri telor. Kue
keranjang ini pun tahan lama, bisa tahan hingga 1 tahun jika disimpan dengan
baik.

Proses
pembuatan kue khas Imlek ini juga mudah. Adonan tepung ketan dan gula diaduk-aduk
hingga mengental kemudian dikukus. Saat proses pengukusan, dibutuhkan keranjang
untuk mengukus adonan tepung dan gula tadi.

Dulu,
kue keranjang dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang. Aroma yang keluar
pun lebih wangi. Namun, kini, kue keranjang hanya dibungkus menggunakan plastik
bening supaya menarik hati.

Menurut
Jongkie Tio, ada kisah menarik di balik sejarah keberadaan kue keranjang.
Memang benar, sampai sekarang pun belum tahu kapan pastinya kuliner lengket ini
pertama kali diciptakan di Indonesia, namun kue keranjang ini ternyata
menyimpan legenda.

Ada
dua versi kisah yang menjelaskan asal muasal kue keranjang ini. Legenda
tersebut dibawa oleh para orang tionghoa yang bermigrasi di Indonesia.

Pertama,
kue keranjang atau biasa disebut Nian Gao ini berasal dari kisah tentang
raksasa jahat dan pemuda di sebuah desa di dataran Tiongkok. Diceritakan,
raksasa jahat bernama Nian tersebut kerap mengganggu manusia dan segala mahluk
yang tinggal di Tiongkok. Tak hanya mengganggu, raksasa jahat ini pun memangsa
manusia.

Suatu
waktu, pemuda baik hati bernama Gao datang ke desa tersebut. Mendengar
perbuatan jahat sang raksasa, Gao memiliki ide untuk mengusir raksasa tersebut.
Dia meminta warga desa untuk membuat kue manis yang lengket untuk ditempelkan
di depan pintu. Jadi, saat sang raksasa datang ke rumah untuk memangsa warga
akan terkecoh dan teralihkan dengan manis dan lengketnya kue tersebut.

Kemudian
kedua, kisah lain menceritakan
tentang kue keranjang yang tak bisa dijauhkan dari Dewa Dapur. Awal mula cerita
kemunculan dewa dapur ini cukup panjang. Suatu hari hiduplah sepasang suami
istri yang hidup dengan menjual makanan ringan. Kedua pasangan ini memiliki dua
peruntungan yang berbeda. Sang suami selalu merasa dirinya kurang beruntung saat
berjualan sedangkan makanan yang dijual istrinya selalu laris manis.

Karena
merasa iri dengan rezeki yang didapatkan istrinya, sang suami memutuskan untuk
menceraikan istrinya dan melanjutkan usahanya seorang diri. Namun, seiring
berjalannya waktu, sang suami mengalami kebangkrutan dalam berusaha. Hidupnya
menderita dan terlantar. Di sisi lain, sang istri malah hidup bergelimang
rezeki karena kebaikan hatinya.

Suatu
hari, sang istri tengah membuka dapur umum untuk para gelandangan. Dia
membagi-bagikan makanan gratis. Saat itu, sang suami tak sengaja datang ke
dapur umum tersebut untuk meminta sesuap nasi. Mengetahui keberadaan mantan
suaminya di dapur umum, sang istri memberikan makanan yang di dalamnya terdapat
barang pemberian sang suami.

Lalu,
saat membuka makanan tersebut, sang mantan suami tersadar kalau barang tersebut
merupakan barang milik istrinya dulu. Merasa malu dengan keadaannya sekarang,
sedangkan di satu sisi istri yang dicampakkannya telah sukses, sang suami
memilih untuk bunuh diri di dapur umum tersebut.

Arwahnya
pun gentayangan menghantui rumah-rumah warga. Arwah ini pun yang akhirnya
dikenal dengan Dewa Dapur. Setiap tahun sekali, dia pergi ke kayangan untuk
melaporkan amal baik dan buruk pasangan yang menghuni rumah yang dikunjunginya.
Jika para penghuni rumah tersebut beramal buruk, maka sang dewa akan memberikan
kutukan.

Maka,
agar Dewa Dapur memberikan laporan-laporan baik tentang kehidupan para penghuni
rumah tersebut, warga setempat membuat kue manis sebagai penutup mulut dan
melaporkan hal-hal yang manis.

Makna Kue Keranjang di Perayaan Imlek

Selain kisah terciptanya, kue manis berwarna cokelat ini
pun menyimpan makna yang menarik untuk ditelisik.

Jika
diamati, kue yang beredar di pasaran pasti berbentuk bundar. Bukan memanjang,
kotak, atau pun segitiga. Menurut Jongkie Tio, kue keranjang memiliki makna
khusus. Bentuknya yang bundar melambangkan persatuan. Rasa manisnya pun
memiliki makna agar siapapun yang memakan kue ini akan selalu berkata yang
baik-baik dan manis. Sedangkan teksturnya yang lengket bermakna agar hubungan
keluarga makin erat.

Kue
ini pun tak boleh disajikan sembarangan. Paling tidak jangan menyajikannya
dalam jumlah 4 karena bagi orang Tionghoa, empat atau shi berarti mati. Dan ini
pun bukan hal baik atau akan bernasib sial.

Lebih baik menyajikannya dalam jumlah ganjil. Kalau pun
akan disajikan dalam jumlah genap, paling baik disajikan 6 buah. Dan yang tak
boleh dilupakan, kue keranjang disusun menjulang ke atas dengan makna agar
segala doa bisa tersampaikan kepada dewa-dewa di atas.

 

(TOP/Phinemo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Avenzel Hotel & Convention Luncurkan Tea Lounge Unik, Ada Billiard dan Spot Instagramable

Avenzel Hotel & Convention Cibubur memperkenalkan konsep terbaru Tea Lounge—ruang bersantai bergaya elegan yang memadukan ragam teh pilihan, kudapan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img