Kamis, Maret 12, 2026

Indonesia Bisa Jadi Pusat Pertumbuhan Industri Petrokimia di ASEAN

Must Read

Moneter.co.id – Indonesia
berpotensi menjadi pusat pertumbuhan industri petrokimia dan akan bisa lebih
kompetitif di tingkat ASEAN dengan semakin meningkatnya investasi dan ekspansi
dari sejumlah produsen di dalam negeri.

Berdasarkan
informasi resmi Kementerian Perindustrian, Jumat (16/3) salah satunya bakal
direalisasikan oleh manufaktur besar Thailand,
Siam Cement Group (SCG), yang berencana membangun fasilitas produksi nafta cracker senilai USD 5,5 miliar
atau
setara Rp75 triliun di Cilegon, Banten.

“Ini
menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi seiring upaya
pemerintah yang terus menciptakan iklim usaha kondusif. Nilai investasi ini
merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dan bagi SCG sendiri,” kata
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Delegasi SCG
yang dipimpin President & CEO SCG, Roongrote Rangsiyopash di Jakarta, Jumat
(16/3).

“Progres proyek SCG ini sudah pada tahap desain pabrik yang akan membutuhkan waktu 8-9 bulan dan
ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2021 atau 2022,” ujarnya Airlangga.

“Investasi
SCG kali ini merupakan bentuk kerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical
Tbk. SCG
selaku pemegang
saham strategis di Chandra Asri, punya teknologi dan funding yang mumpuni. Apalagi, Chandra Asri juga akan ekspansi,”
paparnya.

Menperin
menyebutkan,
pabrik
petrokimia yang akan segera dibangun ini akan memiliki kapasitas produksi dua
kali lipat dari pabrik yang sudah eksisting di Cilegon, yakni sekitar 1,2 juta
ton per tahun.

“Produksinya
itu akan lengkap, mulai dari nafta
cracker
, ethylene dan
propylene, hingga polyethylene dan polypropylene,”
tutur Airlangga.

Kementerian
Perindustrian mencatat, nafta cracker dari
produksi industri nasional sebanyak 900 ribu ton
per tahun, sementara permintaan dalam negeri mencapai 1,6 juta ton.
Sedangkan, Singapura sudah memproduksi
3,8 juta ton dan Thailand 5 juta ton per tahun.

Untuk
itu, lanjut Menperin, pemerintah memberikan apresiasi terhadap investasi SCG
tersebut dan akan berupaya memfasilitasi pemberian tax holiday. Insentif
pajak
ini akan diberikan dengan pertimbangan nilai investasi yang cukup besar serta
dapat menghemat devisa negara karena hasil produksinya untuk substitusi bahan
baku impor.

Sebelumnya,
Roongrote Rangsiyopash menyampaikan, pihaknya telah memilih Indonesia sebagai
salah satu destinasi investasi terbesarnya di kawasan ASEAN. Keyakinannya itu
karena pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini semakin membaik dengan didukung
berbagai kebijakan pemerintah untuk memberi kemudahan berusaha bagi para
investor.

“Kami
sampaikan, kami sangat senang dengan ekonomi Indonesia yang baik yang juga
diiringi dengan peraturan yang mendukung dan situasi politik yang stabil,”
ungkapnya.

Bahkan, dirinya
juga mengklaim upaya yang dilakukan perusahaan saat ini telah sejalan dengan
keinginan Pemerintah Indonesia untuk mempercepat pembangunan industri di
Indonesia, khususnya sektor petrokimia. “Kami senang ternyata Presiden
Jokowi juga sangat memberikan perhatian penuh dalam pembangunan pabrik ini,”
imbuhnya.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA)
Achmad Sigit Dwiwahjono menegaskan, Kemenperin terus mengakselerasi pertumbuhan
industri petrokimia di Indonesia karena berperan penting dalam memenuhi
kebutuhan produksi di sektor manufaktur lainnya.
Dengan sifatnya yang padat modal, padat teknologi, dan
lahap energi, pengembangan industri petrokimia perlu mendapatkan perhatian
khusus dari pemerintah.

“Industri petrokimia sebagai salah satu sektor hulu
yang menyediakan bahan baku untuk hampir seluruh sektor hilir, seperti i
ndustri
plastik,
tekstil, cat,
kosmetik hingga farmasi.
Sehingga keberlanjutan dalam pembangunan industri
petrokimia sangat penting bagi aktivitas ekonomi,” jelasnya.

Sigit
menyampaikan, Chandra Asri selaku industri nasional, akan menggelontorkan
dananya sebesar USD6 miliar sampai tahun 2021 dalam rangka peningkatan
kapasitas produksi.

“Pada tahun
2017, Chandra Asri berinvestasi sebesar USD150 juta untuk menambah kapasitas butadiene sebanyak 50 ribu ton per tahun
dan polyethylene 400 ribu ton per
tahun,” ucap Sigit.

Selain itu,
industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan
merealisasikan investasinya sebesar USD3-4 miliar untuk memproduksi nafta
cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun. Bahan baku kimia
tersebut diperlukan untuk menghasilkan ethylene,
propylene dan produk turunan lainnya.

Dengan tambahan
investasi Lotte Chemical dan Chandra Asri tersebut, Indonesia akan mampu
menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3 juta ton per
tahun. Bahkan, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar ke-4 di
ASEAN setelah Thailand, Singapura dan Malaysia.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sustainability Bond Tahap II Bank bjb, Catat Permintaan Hingga Rp932,4 Miliar

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menawarkan Sustainability Bond Tahap II dengan permintaan investor telah mencapai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img