Moneter.co.id – Dinas
Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, menyatakan daerah ini mengalami surplus beras sebanyak 19 ribu ton
per tahun.
“Jumlah
produksi padi yang dijadikan beras itu sekitar 114 ribu ton per tahun,
sementara Bantul butuhnya kira-kira sekitar 95 ribu ton/tahun, jadi kita masih
surplus,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan
Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Jumat (23/3).
Dengan
demikian, kata dia, jika dikalkulasikan, maka produksi beras petani Bantul yang
sebesar 114 ribu ton/tahun dikurangi kebutuhan pangan masyarakat yang sekitar
95 ribu ton/tahun maka Bantul mempunyai sisa produksi 19 ribu ton beras/tahun.
Pulung
mengatakan, kebutuhan beras masyarakat Bantul itu dihitung dari rata-rata
tingkat konsumsi beras sebanyak 95 kilogram per kapita per tahun, sementara
jumlah penduduk Bantul diprediksikan sudah mencapai sekitar satu juta jiwa.
“Tingkat
konsumsi beras masyarakat Bantul sudah kita naikkan menjadi 95 kg per kapita
per tahun, karena kalau dari BPS itu masih sekitar 86 kg. Jadi kita surplus
beras dengan konsumsi yang sudah saya naikkan,” katanya.
Pulung
mengatakan, meski Bantul hingga tahun ini masih mengalami surplus produksi
beras, namun ke depan perlu ada upaya untuk menjaga ketersediaan pangan,
diantaranya dengan melindungi lahan pertanian pangan dengan luasan minimal
seluas 13 ribu hektare.
“Saat ini
di Bantul masih ada lahan pertanian seluas 15.118 hektare, dan tentu tiap tahun
makin menyusut karena alih fungsi, solusinya dengan perda lahan pertanian
pangan berkelanjutan. Perda itu diinisiasi oleh Dinas Tata Ruang dan
Pertanahan,” katanya.
Solusi
yang lain, kata dia, dengan menekan konsumsi beras atau mengurangi
ketergantungan pada beras dengan diversifikasi pangan memperkaya pangan tidak
hanya beras, melainkan bahan pangan lain yang itu dihasilkan dari lahan
pekarangan.
“Kalau
bisa konsumsinya dianekaragamkan, jadi tidak melulu pada pangan itu, tapi bahan
pangan yang dari pekarangan itu bisa jadi subtitusi pangan. Namun saya harap
jangan beralih ke tepung, karena kita tidak mampu produksi tepung,” katanya.
(HAP/Ant)




