Moneter.co.id – Perusahaan produsen
nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 95 juta atau setara Rp 1,3 triliun pada 2018 ini. Anggaran itu untuk mengejar pertumbuhan
produksi nikel tahun ini sebesar 77.800 ton atau naik 1% dibandingkan produksi
di tahun 2017 kemarin sebesar 76.807 ton.
Selain itu, sebagian
besar capex tahun ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis. Lalu, sekitar
US$ 18 juta akan digunakan untuk perbaikan mesin produksi secara berkala.
Direktur Keuangan INCO,
Febriany Eddy mengatakan, sumber pendanaan capex masih berhasil dari kas
internal. “Dibanding capex tahun lalu sebesar US$ 90 juta, nilai capex tahun
ini hanya naik 5%. Namun tahun lalu INCO hanya menyerap capex US$ 68 juta,” ujarnya
di Jakarta, beberapa hari lalu.
Hingga akhir 2017, total kas
setara kas INCO mencapai US$ 221,69 juta. Angka ini naik 19% dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 185,56 juta.
Sebagai
produsen nikel, kinerja INCO memang tak lepas dari harga komoditas ini. Selain
itu, pergerakan harga batubara dan minyak juga mempengaruhi kinerja INCO
lantaran keduanya merupakan komponen utama dalam operasional produksi INCO.
“Biaya energi sekitar 30% dari cash
cost kami,” kata Febriany.
Sekedar informasi, sepanjang
2017, beban pokok INCO tercatat US$ 622,78 juta. Dari jumlah itu, senilai US$
174,17 juta merupakan pengeluaran untuk bahan bakar minyak dan batubara.
(HAP)




