Moneter.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) membekukan organisasi mahasiswa yang
diduga berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
“Organisasi kemahasiswaan yang dibubarkan adalah Harmoni
Amal dan Titian Ilmu (HATI) yang kami bekukan beberapa minggu yang lalu,”
ujar Wakil Rektor Bidang Akademi dan Kemahasiswaan ITB, Bermawi P. Iskandar, di
Bandung, Rabu (6/06) dilansir dari Antara.
Bermawi mengatakan, organisasi HATI telah lama dicurigai
gerak-geriknya. Pasalnya, sering mengundang tokoh-tokoh HTI untuk menjadi
pemateri dalam diskusi yang diselenggarakannya.
Sebelum dibekukan, pihak rektorat sebetulnya sudah memberikan
peringatan berupa teguran agar organisasi tersebut tidak menyelenggarakan
kegiatan yang bertentangan dengan aturan kampus dan nilai-nilai Pancasila.
Namun, mereka seolah tidak menaatinya.
“Diskusi di kampus dan itu kita tegur, sudah dua kali
mereka mengadakan diskusi itu. Dari hasil diskusi mereka posting di medsos dan
memang ada kaitannya dengan aspirasi dari HTI itu,” kata dia.
Menurutnya, organisasi itu sudah eksis sejak lima tahun lalu.
Tercatat, sebanyak 59 orang yang menjadi anggota HATI. Saat ini pihak ITB,
terus menelusuri secara detail jejak rekam HATI.
Apabila dinilai membahayakan bagi kampus, maka ITB akan
melakukan tindakan tegas berupa pembubaran. Namun untuk sementara ini,
organisasi kemahasiswaan tersebut masih dibekukan karena mereka hanya
berkegiatan pada tataran diskusi.
“Jadi masih wacana. Kalaupun sistem negara khilafah ini
masih wacana. Untuk itu kami perlu meluruskan mereka,” katanya.
Menanggapi pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT) yang memasukan ITB ke dalam beberapa perguruan tinggi terpapar
radikalisme, ia justru berterima kasih karena telah memberikan gambaran serta
masukan terhadap kampusnya.
“HATI ini jadi pelajaran berharga buat ITB. Kami lebih
berhati hati mengizinkan organisasi kehamasiswan seperti HATI ini. Karena
kegiatan diskusinya tidak konstruktif,” kata dia.
Ia juga menjelaskan, saat pertama kali masuk di ITB, para
mahasiswa telah berjanji bahwa mereka akan mematuhi segala aturan yang berlaku
di ITB termasuk berorganisasi dengan berlandaskan Pancasila.
“Yang namanya Pancasila itu harus jadi dasar mereka,
baik dalam berorganisasi kemahasiswaan, menuntut ilmu. Fokuskan perhatian kita
di dalam membangun negara ini dengan mencari kesamaan dari perbedaan yang ada.
Jika seperti itu, maka upaya yang kita lakukan akan bernilai peningkatan
kesejahteraan, menghindari konflik yang terjadi,” tungkasnya.
(HAP)




