Moneter.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit transaksi migas Indonesia
hingga semester I/2018 mencapai US$ 5,39 miliar atau setara Rp 78,84 triliun. Hal
ini seiring naiknya harga minyak dunia.
Berdasar data BPS, sebenarnya keseluruhan neraca perdagangan Indonesia
masih surplus, tapi impor minyak yang tinggi jadi biang kerok dan membuat
defisit. Defisit migas tentunya masih disebabkan oleh tingginya impor dan
kenaikan harga minyak dunia.
“Peningkatan impor migas kumulatif ini disebabkan oleh naiknya
impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah, hasil minyak, dan gas,”
ujar Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono dilansir CNBC
Indonesia, Senin (13/8).
Meski impor migas Juni tergolong tinggi, menurut data BPS
angka ini masih lebih rendah ketimbang realisasi Mei lalu yang bertepatan
dengan persiapan kebutuhan lebaran dan libur panjang.
Impor migas di bulan Mei masih mencetak rekor sebagai impor tertinggi
yang dicatat BPS dalam 13 bulan terakhir, yakni mencapai US$ 2,86 miliar atau
Rp 41,8 triliun. Sementara, impor migas Juni tercatat masih cukup
rendah yakni US$ 1,6 miliar.
Anggoro mengatakan, penurunan impor migas tersebut dipicu oleh
turunnya impor minyak mentah sebesar US$ 343,7 juta dan impor hasil minyak
sebesar US$ 433,1 juta. Namun, impor gas meningkat sebesar US$ 29,7 juta.
Sedangkan, dari sisi volume, impor migas pada Juni 2018
tercatat turun dibandingkan volume impor migas Mei 2018.
Pada Juni 2018, BPS mencatatkan volume impor migas sebesar 3,29 juta
ton atau turun dari periode Mei 2018 yang sebesar 4,65 juta ton.
Sampai dengan kuartal II/2018, volume impor migas turun 1,77%
atau sebesar 429,7 ribu ton menjadi 23,78 juta ton, dibandingkan periode yang
sama tahun lalu, yang sebesar 24,21 juta ton.
(HAP)




