Selasa, Maret 3, 2026

Kemenperin-Enterprise Singapore Sepakat Adopsi Industri 4.0 di IMF-WBG 2018

Must Read

Moneter.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerja sama dengan
Enterprise Singapore dalam upaya mendorong implementasi industri 4.0 di
Indonesia. Kesepakatan kedua belah pihak ini merupakan hasil dari rangkaian
kegiatan Pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-WBG) 2018.

“Revolusi industri
4.0 ini menjadi sangat penting untuk segera diadopsi, karena
akan
menjadi lompatan besar di sektor industri
manufaktur nasional,” kata Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin RI Ngakan Timur Antara
di
Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

Komitmen
bilateral tersebut tertuang dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara
Kepala

BPPI Kemenperin RI Ngakan Timur
Antara dengan CEO Enterprise Singapore, Png Cheong Boon.

Ruang lingkup pelaksanaan MoU yang akan dikolaborasikan
bersama, antara lain menghubungkan industri Indonesia dengan penyedia teknologi
Singapura, mengeksplorasi inisiatif untuk mendorong adopsi solusi inovasi manufaktur
antar industri, dan pengembangan kurikulum pelatihan terkait Industri 4.0 untuk
industri Indonesia.

“Kerja sama itu termasuk di dalamnya fasilitasi pertukaran
antarlembaga mengenai rancangan atau implementasi fasilitas inovasi manufaktur
kepada industri Indonesia dan pengembangan platform
inovasi yang akan menjadi jembatan digital bagi produsen Indonesia dalam mengakses
solusi industri 4.0,” papar Ngakan.

MoU tersebut juga mendukung penerapan Making Indonesia
4.0 guna memacu lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman,
tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektonika. Perjanjian kerja sama
ini mulai berlaku sejak tanggal ditandangani sampai dua tahun dan dapat
diperpanjang kembali dalam periode waktu yang sama.

Ngakan optimistis, Making Indonesia 4.0 yang telah
dijadikan agenda nasional akan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik
Bruto (PDB) riil sebesar 1-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun
akan naik dari baseline sebesar 5%
menjadi 6-7% selama tahun 2018-2030.
Selain
itu, rasio ekspor netto akan meningkat kembali sebesar 10% terhadap PDB.

Kemudian, terjadi peningkatan produktivitas
dengan adopsi teknologi dan inovasi, serta mewujudkan pembukaan 
lapangan kerja baru sebanyak 10 juta
orang pada tahun 2030. “Aspirasi besar yang ditetapkan, yakni 
menjadikan Indonesia masuk pada
jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.
Maka itu, kuncinya adalah
menyiapkan kompetensi SDM dan
infrastruktur digital
,”
imbuhnya.

Menperin pun menegaskan, di era digital saat ini,
industri manufaktur
perlu
memanfaatkan
teknologi otomatisasi yang tinggi dengan ditopang
infrastruktur berbasis internet. Proses ini tidak hanya berlaku di dalam
kegiatan produksi saja, melainkan juga di seluruh rantai nilainya sehingga
terjadi alur yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi, optimalisasi, dan
mutu produk.

Sementara, Png Cheong Boon menyampaikan, pihaknya
berkomitmen ikut berkontribusi membangun kemampuan inovasi sektor industri di
Indonesia. “Kami adalah lembaga pemerintah yang mendukung pengembangan usaha.
Kami juga mendukung pertumbuhan Singapura sebagai pusat perdagangan global dan startup,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
menyambut baik adanya upaya peningkatan kerja sama Indonesia dan Singapura,
termasuk langkah sinergi yang dilakukan Kemenperin dan Enterprise Singapore.
Apalagi, selama 50 tahun ini, hubungan bilateral telah terjalin dengan baik
terutama melalui kolaborasi peningkatan nilai perdagangan dan investasi.

“Peningkatan
kerja sama
RI-Singapura diyakini dapat saling menguntungkan dan
melengkapi sehingga mampu memperkuat perekonomian kedua negara,” ujarnya.

Pada semester I/2018, investasi Singapura ke Indonesia
tercatat sebesar USD5,04 miliar atau naik 38% dibandingkan periode yang sama
tahun lalu. Sedangkan sepanjang tahun 2017, penanaman modal dari Negeri Singa
mencapai USD8,44 miliar.

Di samping itu, pada 2017, nilai ekspor nonmigas
Indonesia ke Singapura menembus hingga USD9 miliar, yang menjadikan Negeri
Singa sebagai tujuan terbesar kelima dalam pengapalan produk manufaktur
nasional.

Menurut Airlangga, belakangan ini pihaknya aktif menarik
investor Singapura ke Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah. “Saat ini,
kami sudah memiliki lebih dari 43 tenant
di KIK. Selanjutnya, kami tengah memfokuskan untuk pengembangan Politeknik
Furnitur di kawasan tersebut,” ungkapnya.

Pembangunan KIK merupakan hasil kerja sama antara
investor Indonesia dengan Singapura. Kawasan industri terintegrasi pertama di
Jawa Tengah itu diproyeksikan menyerap potensi investasi sebesar USD500 juta.
Pada tahap pertama, lahan yang akan digarap seluas 1.000 hektare dengan target
300 tenant dan bakal menyerap tenaga
kerja sebanyak 500 ribu orang hingga tahun 2025. 

Menperin menambahkan, kedua negara sepakat memperkuat
kerja sama di bidang pendidikan kejuruan terutama untuk mengisi kebutuhan di
sektor industri. “Guru dan dosen dari Indonesia telah dikirim untuk mengikuti
program pelatihan vokasi di Singapura, seperti di bidang permesinan, pembangkit
listrik, dan teknik otomasi industri,” jelasnya.

Bahkan, potensi kolaborasi RI-Singapura ke depannya akan
dijalin di bidang ekonomi digital seiring dengan bergulirnya era revolusi
industri 4.0. Salah satu prioritasnya adalah pengembangan Nongsa Digital Park
di Batam sebagai wujud konkret kesepakatan kedua Kepala Pemerintahan untuk
menjadikan Batam sebagai ‘digital bridge
Singapura ke Indonesia.

Di tengah gelaran IMF-WB 2018 di Bali, Presiden RI Joko
Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long melakukan Annual Leaders
Retreat. Hasilnya, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama swap rupiah
dengan dolar Singapura mencapai USD 10 miliar.

Kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti oleh Bank
Indonesia dan otoritas keuangan Singapura dengan bentuk kerja sama yang lebih
detil. Dengan ada kerja sama swap ini, kedua negara tidak lagi khawatir akan
sentimen dolar AS.

Sementara PM
Singapura menyampaikan, pihaknya terus mendorong penguatan persahabatan antara
kedua belah pihak, misalnya melaksanakan
program The Rising Fellowship yang akan melibatkan para
pemimpin daerah di Indonesia. “Kami
harap bisa menyambut lebih dari 1000 pimpinan daerah, pejabat dan
anak muda dari indonesia setiap
tahun,” ujarnya.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Lebaran Jadi Titik Balik Finansial, Pencarian Rumah Melonjak Usai Hari Raya

Narasi mengenai tantangan Generasi Z dan Milenial dalam memiliki hunian pribadi kian mengemuka sebagai isu krusial. Kekhawatiran ini bukan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img