Senin, Januari 26, 2026

Cintai Produk Dalam Negeri Tumbuhkan Sektor Industri

Must Read

Moneter.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) makin gencar mengajak kepada
seluruh masyarakat untuk semakin mencintai, menggunakan dan mempromosikan
produk industri dalam negeri. Hal ini akan mendorong pertumbuhan industri
nasional karena adanya peningkatan pada produktivitas dan permintaan, bahkan
juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Pemerintah telah
menekankan terhadap penggunaan produk-produk dalam negeri, khususnya mengisi
untuk pengadaan barang yang dilakukan oleh pemerintah. Kalau bukan mulai dari
kita, siapa lagi yang akan menggunakan,” kata Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, Senin (29/10).

Ngakan
menegaskan, sejumlah industri manufaktur nasional telah mampu menunjukkan
kemampuan kompetitifnya di pasar global. Capaian ini membuat Indonesia menjadi
basis produksi dan eksportir yang diperhitungkan sehingga dapat dikategorikan
sebagai negara industri.

Misalnya, Indonesia memiliki perusahaan mainan yang telah menguasai
pasar global, yakni
PT
Mattel Indonesia
. Untuk boneka merek Barbie, enam dari 10 yang beredar di dunia
itu dihasilkan dari perusahaan tersebut. Selain itu, mobil mainan Hot Wheels,
dua dari 10 produk yang ada di dunia merupakan buatan anak bangsa.

Di sektor
lainnya, seperti industri otomotif juga memiliki keunggulan. “Daihatsu Indonesia
telah mengekspor produksinya ke lebih dari 60 negara. Produksinya yang di
Karawang sebanyak 500 ribu unit per tahun, jauh lebih banyak dibanding produksi
dari Jepang yang maksimal 200 ribu unit per tahun,” paparnya.  

Di industri
telepon seluler (ponsel), Indonesia telah menjadi lokasi produksi bagi 42 merek
ponsel yang ada di seluruh dunia, dengan total produksi mencapai 68 juta unit
per tahun. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, impor ponsel yang awalnya
sebesar 62 juta unit pada tahun 2013, turun drastis menjadi 11 juta unit di
tahun 2017.

“Jadi,
selain mengajak masyarakat untuk semakin mencintai produk dalam negeri, kami
juga aktif mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru,” ujar Ngakan.

Selama empat
tahun pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, telah tejadi penambahan
populasi industri besar dan sedang. Dari tahun 2014 sebanyak 25.094 unit usaha,
naik menjadi 30.992 unit usaha di tahun 2017, sehingga tumbuh 5.898 unit usaha.

“Sedangkan,
di sektor industri kecil juga mengalami penambahan, dari tahun 2014 sebanyak
3,52 juta unit usaha menjadi 4,49 juta unit usaha pada tahun 2017. Artinya,
tumbuh hingga 970 ribu industri kecil selama empat tahun belakangan ini,”
ungkapnya.

Sebelumnya,
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan,
daya
saing industri nasional yang semakin mengglobal, terlihat dari adanya
peningkatan pada nilai tambah industri. Selain itu, kenaikan indeks daya saing
global, peringkat manufacturing value
added
(MVA), serta pangsa pasar industri nasional terhadap manufaktur
global.

“Nilai tambah Industri nasional meningkat hingga USD34 miliar, dari
tahun 2014 yang mencapai USD202, 82 miliar menjadi USD236,69 miliar saat ini.
Sementara itu, apabila melihat indeks daya saing global, yang sekarang
diperkenalkan metode baru dengan indikator penerapan revolusi industri 4.0,
peringkat Indonesia naik dari posisi 47 tahun 2017 menjadi level ke-45 di
2018,” ujarnya.

Bahkan, merujuk data The United Nations Industrial Development
Organization
(UNIDO), indeks MVA untuk industri di Indonesia
naik tiga peringkat dari posisi 12 pada tahun 2014 menjadi level ke-9 di 2018.

“Selain itu, pangsa pasar industri manufaktur Indonesia di kancah global
pun ikut meningkat menjadi 1,84 persen pada tahun 2018,” tungkasnya.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pelatihan Ekspor Digital Ajak UMKM Ambil Peluang untuk Tembus Pasar Global

Ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) antusias dalam mengikuti Pelatihan UMKM bertema “Membuka Peluang Ekspor di Era...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img