Moneter.id – Terdapat sekitar 60 juta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di
Indonesia yang belum tersentuh perbankan, terlebih layanan usaha finansial
berbasis digital atau financial technology (Fintech).
Selain itu, dalam pengoperasiannya, seringkali UMKM
menemui berbagai masalah mulai dari akurasi pencatatan penjualan yang masuk
hingga pendataan pergudangan sehingga memakan waktu dan tenaga pelaku usaha
hanya untuk permasalahan administrasi saja.
Padahal, UMKM memiliki peran yang signifikan bagi
perekonomian Indonesia. Per 2017 tercatat bahwa kontribusi UMKM terhadap PDB
Indonesia mencapai 60% serta penyerapan tenaga kerja 116,73 juta orang atau
97,02% dari total angkatan kerja yang bekerja.
Sebuah startup Indonesia
yang didirikan oleh Haryanto Tanjo dan Grady Laksmono pada tahun 2014 melihat
hal itu sebagai peluang usaha seiring dengan misi mendorong UMKM untuk naik
kelas dengan solusi teknologi.
“Peningkatan kualitas UMKM di Indonesia sangat bergantung
pada perkembangan teknologi yang mampu membuat bisnis berjalan efektif dan efisien
dengan proses digitalisasi,” kata Haryanto.
Dengan sistem berbasis cloud yang dapat digunakan oleh usaha kecil sekalipun, Moka selaku
aplikasi point-ofsale menawarkan deretan solusi terbaik bagi UMKM di Indonesia
yang ingin memanfaatkan teknologi untuk terus berkembang.
Ide pria lulusan University of California, Berkeley ini
bermula ketika ia dan Grady Laksmono melihat bahwa landscape teknologi Indonesia sedang sangat berkembang pada tahun
2014. Ia kemudian berpikir untuk menemukan solusi terintegrasi dengan
point-of-sale mobile yang bisa digunakan berbagai bidang usaha di Indonesia.
Haryanto menjelaskan, ada tiga kendala utama jika UMKM masih
menjalankan bisnis secara manual. “Pertama,
laporan keuangan yang ditulis manual, seperti pencatatan bon pada setiap
transaksi yang dilakukan akan berujung pada pendataan yang kurang akurat. Data
pun tidak bisa secara langsung diakses online karena masih tertulis di atas
kertas sehingga pertumbuhan bisnis menjadi terhambat,” ucap pria yang kemudian
melanjutkan pendidikan magister bisnisnya di UCLA Anderson School of Management
ini.
Kedua, lanjutnya,
proses manual tidak memungkinkan UMKM mengatur stok barangnya (inventory stock management) secara tepat
sehingga omzet bisa berkurang.
“Ketiga, sistem
manual umumnya hanya melayani transaksi tunai sementara sistem pembayaran saat
ini sudah canggih dengan kartu debit, kredit, maupun mobile payment,” bebernya.
Moka kini telah dipercaya oleh lebih dari 12.000 merchant
yang berlangganan setiap bulannya. Solusi aplikasi kasir modern dari Moka juga
tidak hanya sebatas penghitungan data secara otomatis dan realtime, namun juga
meliputi kemudahan dalam pembayaran dari pelanggan.
Dengan menjadi point-of-sale
pertama dan satu-satunya di Indonesia yang terintegrasi dengan mobile payment, seperti OVO, TCASH, dan
DANA, ia menekankan bahwa Moka hadir untuk memenuhi seluruh
kebutuhan dari bisnis yang ingin berkembang dan naik kelas.
“Moka diharapkan dapat menjadi solusi menyeluruh bagi
pebisnis yang baru saja mulai ataupun ingin mengembangkan bisnisnya lebih luas
lagi. Dari sisi kemudahan penjualan dengan sistem point-of-sale dan fiturnya, integrasi pembayaran, serta dengan
fitur penyaluran modal melalui P2P lending melalui Moka Capital, merchant Moka
bisa tumbuh dan meningkatkan daya saingnya,” ujar Haryanto Tanjo yang juga
pernah bekerja di McKinsey and Company pada 2013 ini.
“Kedepan, tidak hanya Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
saja, Moka juga turut menyasar enterprise,
yaitu bisnis dengan skala lebih besar dengan cabang (restaurant chain) lebih
banyak, yang juga dapat mempercayakan bisnisnya kepada Moka dengan segala fitur
yang sesuai,” tungkasnya.




