Moneter.id – PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) mencatat penurunan kinerja dengan membukukan
pendapatan bersih Rp 562,11 miliar di semester I/2019. Pendapatan ini turun
36,67% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
“TRIO mencatatkan
margin laba kotor pada semester I/2019 sebesar 7,69% atau meningkat sebesar
5,58% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” tulis perseroan
diketerangan resminya, Senin (2/8).
Dijelaskan,
perseroan juga berhasil memangkas beban penjualan sebesar 24,25% menjadi Rp
31,30 miliar dan beban umum dan administrasi hingga 74,88% menjadi Rp 20,86
miliar.
Meski mampu menekan
beban pokok dan beban usaha, kerugian bersih TRIO pada periode enam bulan
pertama tahun ini melonjak 596,79% menjadi Rp 34,7 miliar dari kerugian periode
sebelumnya yang hanya Rp 4,98 miliar.
Selain
karena penurunan pendapatan, kerugian yang membengkak ini disebabkan oleh
kenaikan beban keuangan. Beban keuangan TRIO mencapai Rp 38,18 miliar, naik
109,20% jika dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu.
Pada akhir Juni 2019, TRIO
mencatatkan total aset Rp 246,02 miliar. Namun, perseroan memiliki total
liabilitas Rp 3,87 triliun yang sebagian besar merupakan utang bank jangka
panjang Rp 2,92 triliun dan utang bank jangka pendek Rp 120 miliar.
Pada
akhir semester I/2019, TRIO masih mencatat defisiensi ekuitas Rp 3,62 triliun.
Defisiensi ini terjadi karena defisit yang belum dicadangkan sebesar Rp 7,79
triliun.
Pada tahun buku 2018,
TRIO menelan kerugian Rp 17 miliar. Jumlah tersebut menurun 91,00% atau sekitar
Rp 173 miliar dari tahun 2017 di angka Rp 190 miliar. Adapun aset emiten ritel
gadget ini ikut menurun 27,60% di angka Rp 194 miliar dari Rp 267 miliar.
Pendapatan
usaha menurun 17,59% atau sebesar Rp 357 miliar di angka Rp 1,67 triliun
dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 2,02 triliun. Pendapatan perseroan disokong
oleh penjualan telepon seluler atau tablet sebesar Rp 1,24 triliun, naik 3,89%
dari 2017 di angka Rp 1,19 triliun.
Pendapatan
kedua terbesar didapat dari penjualan voucher isi ulang sebesar di angka Rp
360,25 miliar atau menurun 53,68%.




