Kamis, Januari 15, 2026

Mendag: Dorong Ekspor Cokelat Melalui Produksi Kakao Sustainable dan Ramah Lingkungan

Must Read

Moneter.id – Menteri
Perdagangan Agus Suparmanto mendorong industri dan perdagangan pengolahan kakao
dan cokelat melalui penguatan jalinan kemitraan industri dan eksportir dengan
para petani kakao untuk memperkuat pasokan, serta yang tidak kalah penting
yaitu meningkatkan produksi kakao yang berkelanjutan (sustainable) dan ramah
lingkungan.

“Kemitraan
tersebut dapat memperkuat industri pengolahan kakao dan cokelat serta mendorong
ekspor produk kakao olahan ke pasar global,” ucap Mendag saat menutup
Konferensi Kakao Internasional Indonesia ke-7 (Indonesian International Cocoa
Conference/IICC & Dinner) 2019 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/11).

“Indonesia
sebagai negara utama penghasil biji kakao dan produk kakao di dunia, sangat
berkepentingan atas upaya bersama para pemangku kepentingan dalam merespons
isu-isu terkait industri kakao, khususnya produksi kakao global yang
berkelanjutan,” ungkap Mendag Agus lagi.

Salah satu
cara menjaga pasokan kakao yang berkelanjutan yaitu dengan meningkatkan
produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui kemitraan industri
pengolahan kakao dan cokelat dengan eksportir dan petani.

“Kemitraan
yang terjalin di antara industri, eksportir, dan petani dapat memperkuat
industri kakao di dalam negeri dan memajukan para petani kakao sekaligus
perekonomian Indonesia,” ungkap Mendag Agus.

Menurut
Mendag Agus, saat ini industri pengolahan kakao dan cokelat di Indonesia
menghadapi tantangan kontinuitas pasokan bahan baku biji kakao di dalam negeri
yang masih belum mencukupi kebutuhan industri pengolahan kakao dan cokelat.
Untuk memenuhi kapasitas produksinya, industri pengolahan kakao dan cokelat
masih mengimpor biji kakao dengan menggunakan berbagai fasilitas kemudahan
impor.

Pada 2018, impor
biji kakao untuk kebutuhan bahan baku industri Indonesia mencapai 226 ribu ton.
Sedangkan pasokan dari dalam negeri hanya mencapai 32,5 persen dari kebutuhan
industri tersebut.

“Kemitraan
industri dan eksportir serta petani merupakan salah satu cara menjawab
tantangan itu. Para petani kakao berpeluang memberikan kontribusi yang lebih besar
lagi,” tegas Mendag Agus.

Mendag juga
menyampaikan, Indonesia kini telah bertransformasi dari negara produsen biji
kakao nomor empat dunia menjadi negara industri pengolah kakao terbesar ke dua
di dunia. Nilai investasi pada industri ini di tahun 2018 mencapai Rp8,4
trilliun.

Sementara
itu, kata Mendag, ekspor produk kakao olahan pada 2018 mencapai USD 1,12 miliar
atau sebanyak 325.186 ton. Selain itu, industri ini juga mempekerjakan lebih
dari 3.000 orang.

IICC &
Dinner 2019 merupakan salah satu wadah yang tepat untuk mempromosikan kakao
Indonesia ke taraf Internasional sebagai komoditas ekspor berkualitas tinggi.
Konferensi ini merupakan wujud promosi yang dilakukan secara terus menerus atau
berkesinambungan. Hal ini tentunya sebagai upaya mendukung perkembangan
perdagangan dan industri kakao dalam negeri, yang pada kenyataannya didominasi
para petani kakao yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, yang
diharapkan akan memperkuat perekonomian Indonesia.

“Melalui
konferensi ini, diharapkan citra produk Indonesia semakin harum di pasar global
sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan ekspor produk kakao dan mendorong
ekonomi rakyat seiring berkembangnya industri pengolahan hilir kakao di
Indonesia,” tutur Mendag optimistis. 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

REDMI Note Series Tembus 460 Juta Unit Pengiriman Global

REDMI Note Series menjadi kontributor besar dengan total pengiriman lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img