Moneter.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali
memperdagangkan saham bank yang dahulu bernama Bank Century yakni, PT Bank J
Trust Indonesia Tbk (BCIC) setelah disuspensi sejak 21 November 2008 lalu.
BEI memutuskan untuk mencabut penghentian
sementara perdagangan efek PT Bank JTrust Indonesia Tbk di seluruh pasar mulai
sesi pre-opening pada Rabu, 8 Januari
2020 kemarin.
“Pembukaan perdagangan saham ini setelah
adanya penilaian 100% saham Bank Jtrust dari kantor jasa penilai independen,”
tulis BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (8/1/2020).
Selain itu, BEI mengungkapkan bahwa untuk
mewujudkan kewajaran proses pembentukan harga, pelaksanaan perdagangan saham
Bank JTrust di pasar reguler hari ini dilaksanakan melalui sesi pra-pembukaan atau
pre-opening dengan mengacu beraturan
BEI.
Dalam ringkasan penilaian 100%saham Bank
JTrust, kantor jasa penilai publik Kusnanto dan rekan mengungkapkan bahwa
berdasarkan metode diskonto arus kas, nilai pasar wajar 100% saham Bank JTrust
adalah Rp 4,77 triliun.
Sedangkan nilai pasar wajar 100% saham Bank
JTrust berdasarkan metode pembanding perusahaan tercatat di BEI adalah Rp 2,17
triliun.
Dari hasil rekonsiliasi nilai dengan kedua
metode, yakni dengan bobot 90% untuk metode diskonto arus kas dan 10% untuk
metode pembanding perusahaan tercatat di BEI, nilai pasar wajar Bank JTrust
adalah sebesar Rp 4,51 triliun.
Penilaian nilai wajar BCIC ini diperhitungkan
pada 31 Oktober lalu. Berdasarkan laporan kepemilikan saham per 30 November
2019, JTrust Co Ltd memiliki 86,68% saham seri A BCIC.
JTrust Investments Indonesia memiliki 1%
saham BCIC. JTrust Asia Pte Ltd memmiliki 4,67% saham Bank JTrust. Sedangkan
masyarakat memiliki 7,64% atau setara 765 juta saham bank ini.
Selain saham seri A dengan nilai nominal Rp
1.000 per saham, ada juga saham seri B dengan nilai nomonal Rp 7,8 juta per
saham.
JTrust Co Ltd memiliki 26.038 saham dan
masyarakat memiliki 257.463 saham. Jumlah saham seri B ini hanya 0,003% dari
total saham BCIC.
Seperti diketahui, kinerja PT Bank JTrus
Indonesia Tbk merosot terlalu dalam sehingga berpengaruh pada perolehan laba.
Bahkan,pada paruh pertama 2019, modal inti bank turun 30,9% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1,02 triliun.
Angka tersebut telah mendekati batas bawah
modal inti minimum bank umum kelompok usaha (BUKU) II. Pada kuartal sebelumnya,
modal inti bank juga merosot. Per Maret 2019 modaltier-1 turun 14,5% yoy
menjadi Rp1,15 triliun.




