Moneter.id
–
PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) membukukan pendapatan US$551,76 juta atau
Rp7,88 triliun di semester I/2020. Pendapatan ini turun 7,56% dibandingkan
priode yang sama tahun lalu yakni sebesar US$ 596,88 juta.
Kata CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menurunnya
pendapatan dikarenakan menurunnya kebutuhan energi akibat pandemi Covid-19
mengakibatkan harga minyak kuartal kedua berada di bawah U$30 per barrel dan
memangkas permintaan gas ke level minimum.
“Di tengah penurunan pendapatan, beban pokok Medco
justru membengkak menjadi US$349,19 juta per Juni 2020, dibandingkan sebelumnya
US$272,34 juta,” bebernya akhir pekan lalu.
Sementara,
perseroan mencatat penurunan laba kotor sebesar US$202,56 juta dari US$324,54
juta per Juni 2019.
Medco pun mencatatkan rugi periode berjalan yang dapat
diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$95,75 juta atau setara
Rp1,37 triliun.
Rugi bersih itu berbalik dari sebelumnya laba bersih
US$27,86 juta pada semester I/2019. Perusahaan menghemat kas neto untuk
investasi sebesar US$189,73 juta, berkurang dari sebelumnya US$574,01 juta.
Namun,
perusahaan menggunakan kas neto untuk pendanaan sebesar US$127,86 juta,
berbalik dari sebelumnya kas diperoleh dari pendanaan US$390,48 juta.
Alhasil, kas dan setara kas Medco per akhir Juni 2020
menyusut menjadi US$340,31 juta dari US$450,88 juta per Juni 2019. Total
liabilitas Medco meningkat menjadi US$5,07 miliar dari akhir 2019 senilai
US$4,65 miliar.
Per semester I/2020, liabilitas jangka pendek mencapai
US$1,14 miliar dan liabilitas jangka panjang US$3,93 miliar. Ekuitas Medco
Energi mencapai US$1,26 miliar, berkurang dari sebelumnya US$1,36 miliar.
Total
aset perseroan pun mencapai US$6,33 miliar atau Rp90,43 triliun dari akhir 2019
US$6 miliar. Perseroan mengungkapkan, ada tiga bisnis utama yang menopang
pendapatan di semester pertama tahun ini.
Penjualan minyak dan gas bumi neto senilai US$470,68
juta atau Rp6,72 triliun, penjualan tenaga listrik dan jasa terkait US$79,31 juta
atau Rp1,13 triliun, dan pendapatan jasa US$1,77 juta atau Rp25,28 miliar.
Ada peningkatan penjualan tenaga listrik dan jasa dari
semester I/2019 masing-masing sebesar US$65,39 juta dan US$650.692. Namun,
penjualan migas sebagai kontributor pendapatan utama menurun dari posisi
US$530,83 juta.
Selain
itu, perusahaan telah melakukan lindung nilai sebesar 7,5% dari produksi 2020
hingga 2021 dengan rata-rata harga minyak di US$48 per barel dan US$42 per
barel untuk memberikan perlindungan terhadap permintaan energi yang lebih
rendah.




