Moneter.id
–
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan laba bersih
sebesar Rp6,46 triliun sepanjang tahun 2020 lalu. Angka ini meningkat 32% jika
dibanding realisasi akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp4,91 triliun.
“Marjin laba bersih meningkat menjadi 7,9% dari 6,4%.
Adapun core profit meningkat sebesar 22% menjadi
Rp5,96 triliun dari Rp4,90 triliun,” tulis keterangan resmi perseroan di Jakarta,
Selasa (23/3).
Kata CEO
Indofood Sukses Makmur, Anthoni Salim, perseroan tetap dapat membukukan
kinerja yang konsisten meski kondisi yang dinamis selama tahun 2020.
“Perseroan juga membukukan kenaikan penjualan bersih
Rp81,73 triliun sepanjang tahun 2020 atau tumbuh sebesar 7% dibanding tahun
2019 yang tercatat sebesar Rp76,59 triliun,” ucapnya.
Hasilnya, laba usaha meningkat 31% menjadi
Rp12,89 triliun dari sebelumnya sebesar Rp9,83 triliun dengan marjin laba usaha
sebesar 15,8%.
Tahun lalu, perseroan melalui anak usahanya PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melakukan konsolidasi dengan Pinehill Company Ltd
(PCL) untuk memacu pertumbuhan pendapatan.
Melalui aksi korporasi tersebut, analis BRI Danareksa
Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, penjualan Indofood CBP diperkirakan
meningkat, sehingga bisa menjadikan kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur
lebih baik pada 2020 dan 2021 dibandingkan perkiraan semula.
“Kami merevisi naik target kinerja keuangan Indofood
tahun 2020 dan 2021, karena ditopang oleh konsolidasi Pinehill,” tulis dia
dalam risetnya.
Adapun perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021
direvisi naik dari Rp 84,06 triliun menjadi Rp 91,86 triliun. Begitu juga
dengan perkiraan laba bersih direvisi naik dari Rp 5,66 triliun menjadi Rp 5,73
triliun.
Revisi naik tersebut juga ditopang oleh kenaikan
rata-rata harga jual beberapa produk perseroan dan perkiraan penurunan beban
bunga.
Sebelumnya, Indofood Sukses Makmur melalui anak
usahanya, Indofood CBP, menuntaskan akuisisi mayoritas saham Pinehill Company.
Pinehill adalah perusahaan yang memiliki 12 fasilitas produksi mi instan dengan
kapasitas produksi lebih dari 10 miliar bungkus mi instan, yang berlokasi di
delapan negara dengan total populasi penduduk 550 juta orang.
Pinehill juga memiliki jaringan distribusi di 33 negara
yang memiliki total populasi 885 juta orang. Namun, peningkatan jumlah utang
untuk mendanai akuisisi Pinehill menjadi faktor utama penekan pertumbuhan
keuntungan perseroan tahun 2020 dan 2021.




