Moneter.id – Emiten
kontruksi PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membukukan
laba bersih sebesar Rp 23,98 miliar di tahun 2020. Catatan ini turun 96,38%
dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 663,80 miliar. Nilai
keuntungan saham perseroan juga turun menjadi Rp 7 dari tahun sebelumnya Rp
186.
Berdasarkan
keterbukaan informasi Adhi Karya di Jakarta, Rabu (7/4), perseroan hanya
meraup pendapatan Rp 10,82 triliun pada 2020, turun 29,27% dibanding 2019 yang
mencapai Rp 15,30 triliun. Di sisi lain, sepanjang tahun 2020, beban pokok
penjualan Adhi menurun.
Beban
pokok penjualan turun menjadi Rp 9,09 triliun dari Rp 12,97 triliun. Sedangkan
di pos liabilitas terjadi kenaikan 9,56% menjadi Rp 32,51 triliun dari posisi
2019 sebesar Rp 29,68 triliun. Baca juga: Adhi Karya
Terbitkan Kembali Surat Utang Rp2 Triliun
Aset Adhi
Karya tumbuh 4,32% menjadi Rp 38,09 triliun pada 2020, dibanding posisi 2019
senilai Rp 36,51 triliun. Aset lancar tercatat Rp 30,09 triliun, turun dari Rp
30,31 triliun.
Sedangkan
aset tidak lancar naik 29,07% menjadi Rp 8 triliun dari sebelumnya Rp 6,2
triliun. Adapun ekuitas pada akhir 2020 mencapai Rp 5,57 triliun, menyusut
18,43% dari Rp 6,83 triliun pada tahun sebelumnya.
Perseroan
juga berhasil membukukan kontrak baru senilai Rp 19,7 triliun (di luar pajak)
pada 2020, naik 34% dibandingkan 2019 sebesar Rp 14,7 triliun. Dengan demikian,
nilai total order book sampai Desember 2020 mencapai Rp 49,2 triliun di luar
pajak.
Kontribusi
per lini bisnis pada perolehan kontrak baru Adi Karya pada 2020 meliputi lini
bisnis konstruksi dan energi 93%, properti 6%, serta sisanya berasal dari lini
bisnis lainnya.
Pada tahun
2021, perseroan menargetkan kenaikan nilai kontrak baru hingga 20% atau sekitar
Rp 25 triliun. Untuk mendukung target tersebut, perseroan menganggarkan belanja
modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 3 triliun. Dalam dua bulan
pertama 2021, Adhi Karya mencatatkan kontrak baru Rp 1,5 triliun di luar pajak.
Baca juga: Adhi Karya Targetkan Kenaikan NilaiKontrak Baru
Sekitar Rp25 Triliun di Tahun Depan




