Senin, Maret 2, 2026

Simbol Kayon dan Membangun Optimisme SDGs Dunia di KTT G20 Bali

Must Read

MONETER  Masyarakat Bali berharap segala hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, mampu memberikan jalan kesejahteraan dan harmonisasi untuk
manusia serta alam semesta. Harapan itu seirama dengan logo Gunungan atau Kayon
G20. 


Gunungan merupakan simbol kehidupan serta
kelestarian alam semesata. Sebagaimana gunungan itu pengharapan bagi manusia
dunia untuk kehidupan berlanjutannya.
Gunungan juga dianggap sebagai sumber inspirasi yang berorientasi pada
kesejahteraan dan kebahagian alam semesta.


Kemudian slogan “Recover Together, Recover Stronger” (pulih
bersama, bangkit lebih kuat)
, menjadikan optimisme masa depan cerah bagi seluruh bangsa demi
pencapaian pembangunan berkelanjutan
sustainable development goals (SDGs).


“Harapan yang disimbolkan dengan logo gunungan ini
bagian dari upaya mendukung pencapaian
sustainable
development goals
(SDGs),” kata Guru besar dan dosen sastra budaya
Universitas Udayana I Nyoman Darma Putra di Denpasar, Selasa (8/11/2022).


Ia menambahkan hasil-hasil dari konferensi ini bisa
mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Sejumlah hal terkait SDGs adalah isu pembangunan
sosial dan ekonomi, termasuk mengenai kemiskinan, kelaparan, kesehatan,
pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan dan keadilan
sosial.


Bagi masyarakat Bali, gunung dalam simbol gunungan
dapat merujuk kepada arti Wana Kerthi. Yaitu, upaya untuk menjaga kesucian dan
kelestarian hutan dan pegunungan. Wana Kerthi diartikan sebagai gunung-laut
atau nyegara gunung. 
“Itu simbol kolaborasi yang menentukan kesuburan
alam sebagai sumber kehidupan mahkluk hidup di bumi ini,” ujar Darma.


Sementara, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar I Wayan Adnyana menjelaskan, KTT G20 memberikan harapan besar seluruh bumi
beserta isinya. Selain itu, lanjutya, sekaligus menjadi momentum sejarah yang
besar demi keberlanjutan nasib dunia kedepannya.


“Gunungan atau kayon juga menunjuk wujud gunung.
Gunung merupakan sumber energi vulkanik, yang mampu menyuburkan alam dengan
maha dahsyat
,“ kata
Adnyana.


Gunungan dalam logo Presidensi G20 Indonesia
mewakili semangat dan optimisme masyarakat Indonesia, khususnya untuk pulih
dari pandemi dan segera memasuki babak baru kehidupan.


Filosofi Gunungan menggambarkan simbol kehidupan di
alam semesta, khususnya perpindahan waktu menuju babak baru. Bentuk gunungan
yang seperti segitiga adalah simbol dari purwa, madya, dan wasana, yakni siklus
kehidupan dari awal sampai akhir.


Gunungan juga merupakan lambang pergantian lakon
atau cerita tentang bagaimana manusia berjuang dan berusaha untuk mengubah
jalan hidupnya. Bentuk Gunungan yang mengerucut ke atas bermakna bahwa segala
daya dan upaya manusia diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.


Bali menyebut gunungan dalam pewayangan adalah
kayon. Kayon ini merupakan simbolik alam semesata dengan segala isinya yang
juga berkonotasi dengan gunung melambangkan kelestarian alam, budaya hingga
ekomomi.


Kayon mewakili lambang alam di pewayangan. Bagi
kepercayaan Hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh
sang dalang gambaran proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan
terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha
Bhuta sebagai unsur elemen atau zat dasar dari alam beserta isinya.
Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah, dan
perthiwi.


Sumber dari Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember
2010, laman resmi PHDI Bali yang ditulis I Made Sumarya, menjelaskan alam
semesta ini disusun dari lima anasir dasar Panca Mahabhuta. Akan tetapi yang
paling dominan adalah perthiwi sehingga batu itu padat. Air juga demikian yang
paling dominan anasir dasar Panca


Matahari adalah Teja, Udara adalah Akasa, Bayu dan
sebagainya. “Kandungan Akasa yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam
bentuk ruang, menyebar. Kandungan bayu yang dominan menyebabkankeberadaan
sesuatu dalam bentuk gerak atau benda bergerak, kandungan apah yang dominan
menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk benda padat,” tulis I Made Sumarya.


Kandungan yang dominan itu bisa lebih dari satu
anasir Mahabhuta dalam suatu benda atau isi alam, misalnya kandungan apah dan
prethiwi yang dominan menyebabkan keberadaan dalam bentuk padat cair (kental).
Demikian keberadaan beraneka ragam isi alam ini ditentukan oleh kandungan yang
berbeda-beda dari anasir Panca Mahabhuta.


Panca Mahabhuta sebagai anasir dasar penyusun alam
semesta atau Buana azas Agung diciptakan oleh causa prima (Tuhan Yang Maha Esa)
melalui proses penciptaan. Penciptaan ini merupakan pertemuan antara dua azas
yaitu azas kesadaran serta maya yang bertingkat dari atas ke bawah yang
berperan mentukan keberadaan alam semesta beserta isinya
.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img