PT. Bank Neo Commerce Tbk (BNC) memutuskan menahan seluruh laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan di tengah persaingan industri perbankan digital yang semakin ketat.
Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta Selatan pada 30 April 2026. Dalam rapat itu, pemegang saham juga menyetujui laporan tahunan perseroan, termasuk laporan keuangan dan laporan pengawasan Dewan Komisaris.
Sepanjang 2025, Bank Neo Commerce mencatat perbaikan kinerja signifikan dengan membukukan laba bersih sebesar Rp565,69 miliar. Angka tersebut melonjak dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang tercatat Rp19,88 miliar.
Manajemen menilai keputusan untuk tidak membagikan dividen menjadi langkah strategis agar perseroan memiliki ruang lebih besar dalam memperkuat modal kerja, meningkatkan kapasitas bisnis, serta mendukung pengembangan layanan digital.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono mengatakan capaian kinerja sepanjang 2025 mencerminkan hasil transformasi dan penguatan fundamental usaha yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami mengapresiasi kepercayaan dan dukungan para pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan terhadap Bank Neo Commerce. Pencapaian kinerja pada tahun 2025 mencerminkan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat fundamental bisnis, menjaga kualitas pertumbuhan, serta meningkatkan efisiensi operasional,” ujar Eri dalam keterangannya, Rabu (6/5).
Menurut dia, industri perbankan saat ini menghadapi perubahan yang semakin cepat, terutama dari sisi digitalisasi layanan dan kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Karena itu, perseroan akan terus memperkuat organisasi dan mendorong inovasi layanan.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan kapabilitas organisasi dan mendorong inovasi layanan agar Perseroan dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan sebagai bank dengan layanan digital yang relevan bagi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Selain menyetujui penggunaan laba ditahan, pemegang saham juga merombak susunan direksi perseroan. RUPST mengangkat Adrian Wibisono Soewardjo dan Indra Aditya Sanjaya sebagai direktur baru, efektif setelah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Adrian memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri perbankan, khususnya di bidang operasional bank dan layanan digital. Sementara Indra dikenal sebagai praktisi manajemen risiko dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di sektor keuangan.
Keduanya menggantikan Aditya Wahyu Windarwo dan Ricko Irwanto yang telah menyelesaikan masa jabatan sebagai direktur perseroan.
Rapat juga menyetujui pengangkatan kembali Inkawan D. Jusi sebagai Komisaris Utama Independen.
Melalui keputusan RUPST tersebut, BNC menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola perusahaan yang baik serta menjaga transparansi kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Perseroan juga menargetkan penguatan posisi sebagai salah satu bank digital terkemuka di Indonesia lewat inovasi produk dan layanan perbankan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.




