Jumat, Mei 8, 2026

ASEAN Foundation Perangi Penipuan Siber dengan Scam Ready ASEAN

Must Read

ASEAN Foundation  meluncurkan Scam Ready ASEAN, sebuah inisiatif regional yang bertujuan memperkuat pencegahan terhadap penipuan online di seluruh Asia Tenggara. Program ini diumumkan pada Google 2026 Online Safety Dialogue di Kuala Lumpur pagi tadi, sebuah forum yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pelaku industri, dan pakar keamanan yang berfokus pada penanggulangan ancaman penipuan dan fraud online yang semakin meningkat.

Didukung oleh Google.org dengan pendanaan sebesar USD 5 juta, program ini bertujuan membangun ketahanan terhadap penipuan bagi 3.000.000 orang di seluruh ASEAN, mewakili salah satu inisiatif pertahanan digital terbesar di kawasan dalam menghadapi penipuan online. Scam Ready ASEAN berupaya membekali masyarakat ASEAN dengan pengetahuan, kepercayaan diri digital, dan keterampilan berpikir kritis yang diperlukan untuk mengenali dan mencegah penipuan dalam lingkungan online yang semakin kompleks.

Ancaman yang Memengaruhi Masyarakat di Seluruh Kawasan

Penipuan online telah menjadi salah satu risiko digital dengan pertumbuhan tercepat yang dihadapi Asia Tenggara, melampaui batas negara, sektor, dan komunitas. Meskipun transformasi digital ASEAN telah menciptakan peluang ekonomi dan sosial yang signifikan, hal ini juga meningkatkan kerentanan terhadap penipuan berbasis siber. Hanya pada tahun 2024 saja, Asia Tenggara mengalami kerugian finansial diperkirakan sebesar USD 23,6 miliar akibat penipuan online.

Sepanjang tahun 2025, Indonesia mencatat lebih dari 411.000 laporan kasus penipuan online, dengan estimasi kerugian finansial mencapai sekitar USD 550 juta (sekitar Rp9 triliun), menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Jenis penipuan yang paling umum meliputi phishing, rekayasa sosial, penipuan berkedok identitas (impersonation), penipuan investasi online, serta penipuan melalui pembayaran QR, yang semakin didorong oleh pemanfaatan kecerdasan buatan, platform pembayaran digital, dan taktik lintas platform. Sebagai respons, Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah, termasuk memperkuat regulasi keamanan siber, meluncurkan kampanye edukasi publik, serta meningkatkan kolaborasi dengan lembaga keuangan dan penyedia layanan telekomunikasi.

Seiring dengan terus berkembangnya AI generatif, pembayaran digital, dan media sosial, penipuan menjadi semakin meluas dan sulit dideteksi. Kini penipuan ini memengaruhi masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk anak muda, keluarga, lansia, bahkan mereka yang baru mulai menggunakan internet.

Scam Ready ASEAN akan bermitra dengan 20 organisasi lokal di 11 Negara Anggota untuk menerapkan model Train-the-Trainer berskala besar guna menjaga keamanan masyarakat dari ancaman yang terus berkembang ini. Dengan memobilisasi 2.000 Master Trainer, inisiatif ini akan menyampaikan modul terstruktur dan alat interaktif seperti game Be Scam Ready (klik untuk bermain), kepada setidaknya 550.000 penerima manfaat. Edukasi akar rumput ini akan diperkuat melalui kampanye kesadaran yang dilokalisasi serta serangkaian enam dialog kebijakan nasional dan tiga dialog regional, termasuk di Malaysia, untuk mendorong pertahanan lintas sektor yang terpadu melawan penipuan online.

“Penipuan saat ini bukan lagi insiden yang terisolasi, melainkan tantangan bersama yang terus berkembang dan memengaruhi masyarakat lintas negara, sektor, dan komunitas,” ujar Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation. “Di seluruh Asia Tenggara, kami melihat bagaimana penipuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kepercayaan terhadap ruang digital kita secara lebih luas. Scam Ready ASEAN hadir untuk mengubah pendekatan kita, dari bereaksi terhadap penipuan, menjadi mencegah dan lebih siap menghadapinya. Dengan bekerja sama erat dengan masyarakat, pembuat kebijakan, dan pelaku industri, kami berharap dapat membangun lingkungan digital yang lebih aman di mana masyarakat merasa lebih percaya diri dan terlindungi seiring ASEAN melanjutkan perjalanan digitalnya.”

“Kesuksesan ekonomi digital Asia Tenggara harus dibangun di atas fondasi kepercayaan,” ujar Sapna Chadha, Vice President, Asia Tenggara. “Untuk tetap selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan yang terus mengembangkan taktik mereka, kami meningkatkan keamanan produk dan platform kami, sekaligus mendukung inisiatif seperti program Scam Ready ASEAN untuk memastikan setiap warga negara diberdayakan dengan pengetahuan untuk menjaga keamanan diri mereka secara online. Lebih dari sekadar kesadaran, ini juga tentang berinvestasi dalam pendekatan ekosistem menyeluruh di mana pemerintah, industri, dan masyarakat sipil bekerja sama untuk melindungi kawasan.”

Upaya Regional untuk Membangun Ketahanan terhadap Penipuan

Di tingkat regional, ASEAN juga telah mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi penipuan online, termasuk pembentukan ASEAN Anti-Scam Working Group pada Pertemuan Menteri Digital ASEAN ke-4 di tahun 2024, yang berfokus pada penguatan kerja sama antara pusat-pusat anti-penipuan nasional.

Melanjutkan momentum ini, Scam Ready ASEAN menerjemahkan komitmen kebijakan ASEAN ke dalam program multi tahun yang mendorong pendekatan whole-of-society dalam pencegahan penipuan, mempertemukan pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan komunitas untuk memperkuat ketahanan regional terhadap penipuan online.

Di Balik Peluncuran Program

Sejalan dengan kerangka kerja yang sudah ada seperti ASEAN Anti-Scam Working Group, inisiatif ini diluncurkan hari ini dengan dialog kebijakan tingkat tinggi. Perwakilan dari badan-badan digital, keuangan, dan perlindungan konsumen utama ASEAN berkumpul bersama pemangku kepentingan perbankan dan teknologi untuk berbagi praktik terbaik dan meletakkan dasar bagi kolaborasi lintas sektor di masa depan.

Menyusul dialog tersebut, Scam Ready ASEAN secara resmi diluncurkan oleh Y.B. Dato’ Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia; Duta Besar Sarah Al Bakri Devadason, Ketua Dewan Pengawas ASEAN Foundation dan Perwakilan Tetap Malaysia untuk ASEAN; Duta Besar Evangeline T. Ong Jimenez-Ducrocq, Anggota Dewan Pengawas ASEAN Foundation dan Perwakilan Tetap Republik Filipina untuk ASEAN; Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation; serta Ram Papatla, Managing Director, Trust & Safety, Google APAC.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pasar Modal Menguat, Allianz Siapkan Strategi Investasi Lebih Selektif Tahun Ini

Di tengah gejolak pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian suku bunga, perang dagang, dan perlambatan ekonomi dunia, industri pengelolaan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img